STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Harga minyak mentah dunia ditutup nyaris tak bergerak pada akhir perdagangan Senin (21/7/2025) waktu setempat atau Selasa pagi (22/7/2025) WIB. Pelaku pasar menilai sanksi terbaru Uni Eropa terhadap Rusia tidak akan berdampak besar terhadap pasokan global. Di sisi lain, rencana tarif baru dari Amerika Serikat ikut memicu kekhawatiran soal permintaan.
Mengutip CNBC International, kontrak berjangka Brent turun tipis 7 sen menjadi US$69,21 per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 14 sen ke posisi US$67,20 per barel, di New York Mercantile Exchange.
Pekan lalu, Uni Eropa mengesahkan paket sanksi ke-18 terhadap Rusia atas perang di Ukraina. Sanksi ini mencakup larangan impor produk olahan minyak yang dibuat dari minyak mentah Rusia, termasuk dari perusahaan Nayara Energy asal India.
Namun, pasar menilai pasokan minyak global masih relatif aman. “Pasar saat ini berpikir pasokan tetap akan mengalir ke pasar dengan cara apa pun. Jadi, kekhawatirannya tidak terlalu besar,” ujar John Kilduff, mitra di Again Capital, New York.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, sebelumnya juga mengatakan bahwa Rusia sudah membentuk semacam “kekebalan” terhadap sanksi Barat.
Paket sanksi terbaru ini juga muncul setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap pembeli ekspor Rusia jika Moskow tidak mencapai kesepakatan damai dalam 50 hari.
Analis dari ING menyebut larangan impor produk olahan minyak dari negara ketiga bisa berdampak, meskipun akan sulit dipantau dan ditegakkan di lapangan.
Sementara itu, Iran yang juga sedang dijatuhi sanksi dijadwalkan menggelar pembicaraan nuklir dengan Inggris, Prancis, dan Jerman di Istanbul pada Jumat mendatang. Kementerian Luar Negeri Iran menyampaikan kabar ini menyusul peringatan dari ketiga negara Eropa yang mengancam menjatuhkan sanksi jika pembicaraan tidak dilanjutkan.
Dari Amerika Serikat, jumlah rig pengeboran minyak aktif turun dua unit menjadi 422 pekan lalu. Angka ini merupakan level terendah sejak September 2021, menurut data Baker Hughes.
Analis dari StoneX, Alex Hodes, menilai aktivitas pengeboran minyak kemungkinan tetap lesu hingga akhir tahun. “Namun, harga saat ini belum cukup rendah untuk memicu penurunan besar dalam investasi,” ujarnya.
Di sisi lain, tarif baru AS terhadap impor dari Uni Eropa akan mulai berlaku pada 1 Agustus. Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, mengaku optimistis bisa mencapai kesepakatan dagang dengan Eropa.
John Kilduff dari Again Capital menambahkan, “Tarif AS berpotensi berdampak negatif pada permintaan minyak dan aktivitas ekonomi. Kita belum melihat dampaknya sekarang, tapi itu bisa terjadi.”
Analis dari IG Market, Tony Sycamore, mengatakan tekanan akibat isu tarif bisa terus membayangi pasar menjelang tenggat awal Agustus. Namun, data cadangan minyak bisa memberi dukungan jika menunjukkan pasokan yang ketat.
“Untuk pekan ini, rasanya harga akan bergerak di kisaran US$64 sampai US$70,” kata Sycamore.
Harga minyak Brent sempat diperdagangkan di kisaran US$66,34 hingga US$71,53 per barel. Rentang ini terjadi setelah kesepakatan gencatan senjata pada 24 Juni lalu yang mengakhiri konflik 12 hari antara Israel dan Iran.
