back to top

Harga Terbang Gila-gilaan, BEI Gembok Perdagangan 6 Saham dan Waran Ini Mulai Pagi Ini

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah tegas pada perdagangan hari ini. Otoritas bursa menghentikan sementara perdagangan enam saham emiten sekaligus. Keputusan ini berlaku mulai sesi I pada Rabu (26/11/2025). Suspensi dilakukan secara massal karena pergerakan harga saham-saham tersebut dinilai naik terlalu signifikan.

Kepala Divisi Pengawasan Transaksi Bursa Efek Indonesia (BEI), Yulianto Aji Sadono menyampaikan hal ini dalam keterbukaan informasi. Langkah ini merupakan bentuk perlindungan langsung bagi investor ritel maupun institusi.

“Sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham dan sebagai bentuk perlindungan bagi Investor, PT Bursa Efek Indonesia memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan Saham di Pasar Reguler dan Pasar Tunai mulai sesi I tanggal 26 November 2025 sampai dengan pengumuman Bursa lebih lanjut,” tulis Yulianto dikutip Rabu (26/11/2025).

Suspensi pertama dilakukan pada saham PT Magna Investama Mandiri Tbk (MGNA) dan  instrumen waran MGNA-W di seluruh pasar. Kenaikan harga dianggap terlalu signifikan sehingga diperlukan penghentian sementara sebagai langkah pengamanan.

Saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) juga terkena suspensi. Perdagangan dihentikan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai mulai sesi I tanggal 26 November 2025 sampai pengumuman lebih lanjut dari BEI. Bursa kembali mengingatkan seluruh pihak untuk memperhatikan setiap keterbukaan informasi dari perseroan.

Penghentian sementara juga diterapkan pada saham PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA). Suspensi dilakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai pada 26 November 2025. BEI menyebut langkah cooling down diperlukan agar pelaku pasar memiliki waktu memadai untuk menilai informasi sebelum mengambil keputusan investasi.

Saham PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) mengalami perlakuan serupa. Perdagangan dihentikan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai pada 26 November 2025 sebagai langkah proteksi dan penyejukan pasar. BEI meminta investor mencermati keterbukaan informasi dari perusahaan.

Suspensi lainnya menimpa PT Singaraja Putra Tbk (SINI). BEI menghentikan perdagangan saham SINI di Pasar Reguler dan Pasar Tunai mulai sesi I pada 26 November 2025 sampai pengumuman lebih lanjut.

Terakhir, BEI juga menyetop perdagangan saham PT Arkora Hydro Tbk (ARKO). Langkah cooling down diambil di Pasar Reguler dan Pasar Tunai pada 26 November 2025 untuk memberi waktu bagi pasar dalam menilai kondisi emiten tersebut.

BEI menegaskan seluruh keputusan suspensi dilakukan sebagai tindakan perlindungan investor dan menjaga perdagangan tetap teratur, wajar, dan efisien. Investor diminta mengikuti setiap keterbukaan informasi dari masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan di tengah volatilitas harga yang terjadi.

Harga Saham

Pada penutupan perdagangan 25 November 2025, harga BUVA berada di level Rp 1.375 atau naik 230 poin (20,09%). Saham ini sempat menyentuh level tertinggi Rp 1.410 dan terendah Rp 1.150. Volume perdagangan BUVA sangat ramai mencapai 566.726.900 saham. Kapitalisasi pasar atau *market cap* emiten ini menyentuh Rp 33.848.450.132.750. Jika melihat rentang setahun terakhir (52W Low-High), harga BUVA terbang jauh dari Rp 56 ke Rp 1.410.

Data perdagangan terakhir menunjukkan SINI parkir di angka “cantik” Rp 10.000 per saham. Angka ini naik 800 poin atau 8,70% dari penutupan sebelumnya. Volume yang diperdagangkan sebanyak 332.300 saham dengan kapitalisasi pasar Rp 4.810.000.000.000. Harga terendah tahun berjalan SINI tercatat di Rp 1.975 pada akhir Januari lalu.

MGNA ditutup menguat 9 poin atau 9,09% ke level Rp 108 pada perdagangan kemarin. Volume transaksi mencapai 1.464.700 saham dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 368.335.194.156. Rentang pergerakan harga setahun terakhir cukup lebar, mulai dari Rp 15 hingga Rp 116.

Sementara itu, saham NRCA berada di Rp 1.560, melonjak 310 poin atau 24,80%. Volume perdagangan tembus 182.476.000 saham. Kapitalisasi pasar NRCA kini mencapai Rp 3.894.163.016.640. Harga terendah tahun ini sempat menyentuh Rp 288 pada April lalu.

Pada penutupan terakhir, AYAM berada di level Rp 334, naik 12 poin atau 3,73%. Volume transaksi tercatat 485.238.000 saham dengan *market cap* Rp 1.336.000.000.000. Harga saham ini pernah berada di titik terendah Rp 138 pada Maret 2025.

Terakhir, Saham ARKO ditutup melesat 18,67% atau naik 620 poin ke level Rp 3.940. Volume perdagangan mencapai 12.127.500 saham. Kapitalisasi pasarnya cukup besar, yakni Rp 11.538.270.300.000. Sepanjang tahun berjalan, harga terendah ARKO berada di Rp 755.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Mirae Asset Sekuritas, Saham Emiten Tambang Batubara Dapat Menjadi Pilihan

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Mirae Asset Sekuritas menilai saham-saham...

Pefindo Sematkan Peringkat idA untuk Obligasi Daaz Bara Lestari (DAAZ)

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) telah memberikan...

Divestasi 2,9% Saham RMKO di  Atas Harga Pasar, Pengendali Dapat Cuan Segini

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Pemegang saham pengendali PT Royaltama Mulia Kontraktorindo...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru