spot_img

Perang Timur Tengah Memanas, Mirae Asset Tetap Patok Target IHSG 10.500 dan Lirik Saham BBCA

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia belum merevisi target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun ini. Target indeks saham tetap dipatok pada level 10.500. Keputusan ini diambil di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini sedang memanas.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, angkat bicara. Evaluasi target indeks dinilai masih terlalu dini untuk dilakukan sekarang. Tim riset akan menunggu rilis laporan keuangan para emiten terlebih dahulu.

Gejolak geopolitik diperkirakan belum banyak berdampak pada operasional perusahaan. Pengaruh terbesar kemungkinan datang dari kenaikan harga komoditas pada kuartal pertama.

“Kita akan melakukan review apabila sudah keluar dari rilis earnings. Sementara ini masih 10.500,” ujar Rully dalam acara Online Media Day: March 2026 di Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Rully juga menyoroti pergerakan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dinilai punya daya tarik tinggi. Penurunan harga saham BBCA belakangan ini dinilai sudah terlalu dalam. Aksi jual di pasar juga terbilang cukup besar.

Penurunan saham BBCA merupakan antisipasi pelaku pasar terhadap keputusan MSCI pada bulan Mei mendatang. Kondisi ini justru membuka peluang masuk bagi para investor.

“Kalau menurut saya pribadi sebenarnya menarik ya dari BBCA,” ungkapnya memberikan rekomendasi.

Situasi berbeda dialami oleh jajaran bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Saham BBRI, BMRI, dan BBNI sedang ditekan oleh sentimen negatif. Muncul kekhawatiran terkait potensi penurunan peringkat atau rating. Kinerja bank pelat merah memang sangat terkait erat dengan arah kebijakan negara.

Pasar kini sedang memperhatikan eksposur program utama pemerintah. Salah satunya menyangkut kebijakan Kredit Dana Masyarakat dan Program (KDMP) terhadap kinerja bank-bank pemerintah ini.

Pemerintah diminta lebih proaktif meredam kekhawatiran pasar. Penjelasan meyakinkan harus segera diberikan kepada lembaga-lembaga pemeringkat dunia. Reputasi industri perbankan nasional selama ini sudah terbangun dengan sangat baik. Program-program pemerintah sebaiknya tidak membebani arus kas dan kinerja bank BUMN.

“Sangat disayangkan kalau misalkan terjadi penurunan rating. Tidak sebaiknya dipaksakan untuk program-program,” pungkas Rully.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Tempo Scan (TSPC) Tebar Dividen Rp225,493 Miliar, Investor Kantongi Rp50 per Saham

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) berencana...

Ateliers Mecaniques (AMIN) Guyur Dividen Rp10 per Saham,  Cair 08 Juli 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Dividen tunai PT Ateliers Mecaniques D Indonesie...

Komisaris Independen Krom Bank Indonesia Markus Sugiono Mundur, Tunggu Keputusan RUPS

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Manajemen PT Krom  Bank Indonesia  Tbk (BBSI) mengumumkan, pengunduran...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru