STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan parah pada perdagangan saham Rabu (4/3/2026). Penurunan tajam ini sejalan dengan rontoknya berbagai bursa saham di kawasan regional akibat sentimen negatif global.
IHSG mengawali hari di level 7.896,377. Indeks kemudian merosot 91,439 poin atau 1,15% ke level 7.848,328 pada pukul 09.03 WIB. Posisi ini terjun bebas dari penutupan Selasa (3/3/2026) di angka 7.939,767.
Kejatuhan indeks semakin dalam menjelang siang. Mengutip data RTI pukul 11.01 WIB, IHSG makin ambruk ke posisi 7.684,727. Indeks tercatat longsor hingga 255,039 poin. Angka ini mencerminkan pelemahan signifikan sebesar 3,21%.
Aksi jual masif menyeret indeks ke titik terendah harian di 7.584,858. Padahal indeks sempat menyentuh level tertinggi di posisi 7.897,812.
Pergerakan harga saham didominasi oleh zona merah. Sebanyak 698 saham terpantau kompak melemah. Hanya 71 saham berhasil menguat. Sisanya sebanyak 43 saham tidak beranjak dari posisi sebelumnya.
Aktivitas bursa berlangsung sangat dinamis. Volume transaksi mencapai lebih dari 30,354 miliar saham. Nilai transaksi menembus Rp 15,557 triliun dengan frekuensi transaksi mencapai 1,790 juta kali. Kapitalisasi pasar kini berada di level Rp 13.720,745 triliun.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, buka suara merespons pertanyaan awak media mengenai indeks yang sempat anjlok hingga 4% pada pukul 10.30 WIB. Penurunan tajam ini dipicu murni oleh sentimen global, bukan karena aturan pengungkapan data kepemilikan saham di atas 1%.
Indeks regional lain ikut turun tajam menyusul kondisi global ini. Sejumlah indeks seperti Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAEIX, dan ASX kompak terkoreksi. Korea Selatan bahkan sampai mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) usai indeksnya anjlok lebih dari 8%.
“Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas,” ujar Irvan, Kamis (4/3/2026).
Pemblokiran jalur laut krusial di kawasan tersebut turut memicu kepanikan investor di pasar modal. Efek domino dari peristiwa ini sudah mulai tercermin pada lonjakan harga komoditas minyak dunia saat ini.
“Iran menutup selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi,” pungkasnya.
