back to top

Impor Energi USD15 Miliar dari AS, Menteri ESDM: Cuma Pindah Negara, Bukan Tambah Kuota

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan penjelasan mengenai kerja sama energi antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Pemerintah menyepakati belanja energi senilai USD15 miliar dari Negeri Paman Sam tersebut.

Kesepakatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington DC beberapa waktu lalu. Perjanjian tersebut dituangkan dalam Reciprocal Trade Agreement (RTA) atau Agreement on Reciprocal Trade (ART).

Menteri Bahlil menegaskan kesepakatan dagang ini tidak akan menambah kuota impor energi nasional. Indonesia hanya mengalihkan sumber impor dari negara lain ke Amerika Serikat.

“Untuk kebutuhan LPG kita setiap tahun sebesar 8,3 juta ton, sementara produksi nasional kita 1,6 juta sehingga per tahun kita mengimpor 7 juta ton. Yang kedua BBM dan ketiga crude, inilah yang kita konsensuskan kemarin di Amerika untuk belanja USD15 miliar,” ujar Bahlil di Jakarta, Minggu (1/3/2026).

Nilai belanja tersebut mencakup impor LPG sekitar USD3,5 miliar dan minyak mentah (crude oil) sekitar USD4,5 miliar. Selain itu, terdapat impor produk BBM olahan tertentu dengan nilai mencapai USD7 miliar.

Bahlil menjelaskan harga pembelian ketiga komoditas tersebut tetap mengikuti mekanisme pasar dunia. Ia memastikan harga dari Amerika Serikat sangat kompetitif bagi keuangan negara.

“Harga impor ketiga produk senilai USD15 miliar dari Amerika tersebut sama dengan harga pasar. Jadi tidak ada perbedaan apakah dari Middle East atau dari Amerika. Itu harganya sama, bahkan justru untuk LPG dari Amerika jauh lebih murah ketimbang dari negara-negara yang lain,” tegasnya.

Kebijakan ini diambil karena produksi energi dalam negeri memang belum mencukupi kebutuhan domestik. Namun, pemindahan asal pemasok ini dijamin tidak akan mengganggu kedaulatan energi nasional.

“Kita hanya mengganti saja. Jadi volume angka impornya sama, switch tempatnya aja yang berbeda. Jadi yakinlah bahwa kedaulatan bangsa ini tetap terjaga, saya tidak akan mungkin menjual bangsa sendiri,” jelas Bahlil.

Pemerintah terus memastikan seluruh komitmen impor disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri. Selain minyak dan gas, kerja sama ini juga mencakup komoditas batubara metalurgi dan teknologi batubara bersih.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Inflasi Year-on-year Tercatat 4,76% pada Februari 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa...

BPS, Necara Perdagangan Surplus US$0,95 Miliar pada Januari 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca...

Kemenko Perekonomian: Impor Pertanian dari AS Rp75,37 Triliun Murni Bisnis Swasta, Bukan Pakai APBN

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – Pemerintah menegaskan komitmen fasilitasi impor produk...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru