Minggu, Januari 11, 2026
25.1 C
Jakarta

Intip Bocoran Saham Pilihan 2026, Sektor Ritel hingga Logam Jadi Primadona

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Para analis pasar modal mulai memetakan strategi investasi menghadapi tahun 2026. Pemulihan ekonomi yang masih tentatif membuat pelaku pasar harus lebih jeli dalam memilih saham. Strategi pemilihan saham secara selektif atau stock picking diperkirakan menjadi kunci utama tahun ini.

Customer Engagement & Market Analyst Departemen Head BRI Danareksa Sekuritas, Chory Agung Ramdhani menyarankan investor untuk fokus pada sektor domestik. Ia menilai beberapa sektor memiliki prospek pertumbuhan laba yang lebih jelas dibanding yang lain.

“Di tengah pemulihan ekonomi yang masih bersifat tentatif, tahun 2026 diperkirakan kembali menjadi tahun yang menekankan strategi bottom-up atau stock picking. Meski demikian, dari sisi alokasi sektor, kami tetap berfokus pada sektor-sektor domestik terpilih yang memiliki visibilitas pertumbuhan lebih baik,” ujar Chory kepada stockwatch.id.

Chory menyoroti sektor ritel dan telekomunikasi sebagai unggulan. Hal ini berbeda dengan sektor perbankan dan konsumer yang diproyeksikan tumbuh moderat. Permintaan pada kedua sektor tersebut dinilai masih cenderung lemah.

“Perbankan dan Konsumer saat ini mencerminkan proyeksi pertumbuhan EPS 2026 yang relatif moderat (Perbankan: +4% yoy, Konsumer: +6%), seiring prospek permintaan yang masih cenderung lemah. Kami menilai Telekomunikasi (pertumbuhan EBITDA 2026 sebesar 7%), Unggas/Poultry (pertumbuhan EPS 2026 sebesar 4%), serta Ritel (pertumbuhan EPS 2026 sebesar 16%) sebagai sektor-sektor dengan visibilitas pertumbuhan yang lebih baik,” jelasnya.

Sektor komoditas juga memiliki daya tarik tersendiri, khususnya logam. Chory melihat adanya potensi pertumbuhan volume dari proyek-proyek baru. Emiten yang terekspos pada emas dan timah dinilai lebih menguntungkan dibandingkan nikel.

“Di sektor komoditas, kami memproyeksikan sektor logam (Metals) memiliki prospek pertumbuhan EPS 2026 yang menarik sebesar 27%. Hal ini terutama didukung oleh ekspektasi pertumbuhan volume dari proyek-proyek baru dan ekspansi di sejumlah emiten (antara lain BRMS, INCO, dan MBMA). Di tengah prospek harga nikel yang cenderung datar, kinerja pada 2026 diperkirakan akan lebih menguntungkan bagi emiten dengan eksposur ke emas (BRMS) dan timah (TINS),” papar Chory.

Sementara itu, VP Equity Research PT BNI Sekuritas, Yulinda Hartanto memprediksi adanya rotasi sektor. Investor diperkirakan beralih dari saham spekulatif ke saham blue chips dengan fundamental kuat. Penurunan suku bunga dan stimulus fiskal menjadi katalis positif.

“Consumer & proxies (telekomunikasi, FMCG) sebagai penerima manfaat penurunan suku bunga dan stimulus fiskal,” ungkap Yulinda.

Yulinda juga merekomendasikan sektor kesehatan dan bahan bangunan. Kedua sektor ini erat kaitannya dengan eksekusi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta siklus perumahan. Komoditas terpilih seperti batu bara dan CPO juga dilirik seiring perbaikan permintaan global.

“Healthcare dan building materials yang terkait eksekusi APBN dan siklus perumahan. Komoditas terpilih (coal, CPO, nickel-related) seiring harga yang diperkirakan telah mendekati dasar dan permintaan global membaik. Quality cyclicals & large caps seperti Astra, Telkom, Unilever yang relatif under-owned,” tambahnya.

Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada memiliki pandangan serupa terkait sektor penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia menyebut deretan sektor yang potensial menopang indeks.

“Motor penggerak IHSG, diharapkan datang dari sektor konsumer, teknologi, infrastruktur, properti, hingga kesehatan,” kata Reza.

Untuk pilihan saham spesifik, Reza melihat saham konglomerat masih menjadi primadona. Saham lapis kedua dengan aksi korporasi juga menarik perhatian. Kelompok usaha Prajogo Pangestu dan Bakrie Group dinilai masih mendominasi portofolio investasi.

“Sepertinya saham-saham konglo masih akan menjadi pilihan dari pelaku pasar dan sejumlah saham-saham second liner yang memberikan berita terkait aksi korporasinya,” ucap Reza.

Reza merinci beberapa nama saham dari kedua grup konglomerat tersebut. Kinerja masa lalu dan keterjangkauan harga menjadi alasan utama.

“Terkait pilihan saham spesifik untuk tahun 2026, beberapa saham dari grup konglomerat tetap menjadi primadona dalam portofolio investasi. Dari grup Prajogo Pangestu, saham seperti PTRO, CUAN, dan BRPT dinilai telah memberikan hasil yang signifikan sepanjang 2025 dan diharapkan berlanjut. Sementara dari grup Bakrie, saham-saham seperti BRMS, BUMI, dan VKTR (yang bergerak di bidang distribusi bus listrik) masih menjadi pilihan menarik karena harganya yang relatif terjangkau namun memiliki volume perdagangan yang besar di pasar,” jelasnya.

Chory menambahkan kriteria saham yang layak dikoleksi. Ia menekankan pentingnya fundamental perusahaan dibanding sekadar jangka waktu investasi. Perusahaan dengan ekspansi nyata dan arus kas kuat menjadi prioritas.

“Karakter saham yang menarik: Emiten dengan ekspansi nyata & produktif. Neraca sehat, arus kas kuat. Earnings growth konsisten, bukan hanya story,” tutup Chory.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Investor Telkom (TLKM) Melejit di Akhir 2025, Danantara Genggam Kendali 52,09%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)...

Komposisi Pemegang Saham BRMS Akhir 2025: Investor Sugiman Halim Genggam 7,45%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)...

Ekspansi Rumah Tapak, Pengendali Diamond Citra (DADA) Akuisisi PKSI Rp174,8 Miliar

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Karya Permata Inovasi Indonesia Tbk...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru