STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak melemah pada penutupan perdagangan Kamis (26/3/2026). Investor bereaksi negatif terhadap pernyataan Iran yang enggan berdialog langsung dengan Amerika Serikat (AS). Padahal, Teheran tengah meninjau proposal perdamaian dari Washington untuk mengakhiri perang.
Mengutip CNBC International, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut pertukaran pesan kedua negara hanya dilakukan melalui mediator. Pernyataan ini meredam harapan pasar akan adanya negosiasi damai secara langsung dalam waktu dekat.
“Pertukaran pesan antara kedua negara melalui mediator tidak berarti negosiasi dengan AS,” ujar Araghchi seperti dikutip dari Reuters.
Ketegangan ini memicu aksi jual di berbagai bursa utama Asia. Indeks Kospi Korea Selatan mencatatkan penurunan terdalam dengan merosot lebih dari 3% ke level 5.460,46. Sementara itu, indeks Kosdaq yang diisi saham berkapitalisasi kecil turun 1,98% ke posisi 1.136,64.
Bursa Jepang juga tertekan di zona merah. Indeks Nikkei 225 turun 0,27% dan berakhir di posisi 53.603,65. Indeks Topix yang lebih luas juga melemah 0,22% menjadi 3.642,8.
Kondisi serupa terjadi di pasar saham China dan Hong Kong. Indeks Hang Seng di Hong Kong terpangkas 1,9% pada akhir perdagangan. Indeks CSI 300 di China daratan juga menyusut lebih dari 1% ke level 4.477,53.
Bursa Australia turut merasakan dampak negatif sentimen geopolitik tersebut. Indeks S&P/ASX 200 ditutup turun tipis 0,1% ke level 8.525,7. Sebaliknya, indeks Nifty 50 di India menjadi pengecualian dengan menguat 1,72% ke posisi 23.306,45.
Thierry Wizman, Ahli Strategi FX dan Suku Bunga Global di Macquarie Group, menilai gencatan senjata belum akan terjadi dalam waktu dekat. Ia memprediksi adanya peningkatan aksi militer oleh AS untuk menekan Iran.
“Sebaliknya, intensifikasi aksi militer oleh AS saat mereka mencoba mendorong Iran untuk membuat konsesi penting kemungkinan akan terjadi selama dua minggu ke depan, sebelum operasi tempur utama berhasil, mungkin pada pertengahan April,” kata Wizman dalam catatannya.
Wizman melihat situasi konflik ini sedang memasuki babak baru yang lebih kompleks. Pelaku pasar kini harus bersiap menghadapi dinamika diplomasi yang dibarengi dengan kontak senjata.
“Perang sekarang mungkin memasuki fase ketiga yaitu ‘bicara dan bertarung’, bukan hanya bicara, atau hanya bertarung,” tambah Wizman.
