STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Harga minyak mentah dunia ditutup menguat pada akhir perdagangan Kamis (24/7/2025) waktu setempat atau Jumat pagi (25/7/2025) WIB. Kenaikan ini didorong oleh sentimen positif terkait negosiasi perdagangan Amerika Serikat serta penurunan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan.
Mengutip CNBC International, kontrak berjangka Brent naik 67 sen atau 0,98% menjadi US$69,18 per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 78 sen atau 1,2% dan ditutup di level US$66,03 per barel, di New York Mercantile Exchange.
Kenaikan harga ini datang setelah pasar nyaris tidak bergerak sehari sebelumnya. Para pelaku pasar masih memantau perkembangan pembicaraan dagang antara AS dan Uni Eropa, menyusul kesepakatan tarif antara Presiden Donald Trump dan Jepang.
Kesepakatan dengan Jepang mencakup pengurangan tarif impor mobil dan membebaskan Tokyo dari bea baru. Sebagai imbalannya, Jepang menyepakati paket investasi dan pinjaman ke AS senilai US$550 miliar.
“Pembelian didorong oleh optimisme bahwa kemajuan dalam negosiasi tarif dengan AS akan membantu menghindari skenario terburuk,” kata Hiroyuki Kikukawa, Kepala Strategi di Nissan Securities Investment.
Meski begitu, ia mengingatkan ketidakpastian terkait hubungan dagang AS-Tiongkok serta negosiasi damai antara Ukraina dan Rusia masih menjadi faktor penahan kenaikan harga lebih lanjut.
“WTI kemungkinan akan tetap bergerak di kisaran US$60 hingga US$70,” tambahnya.
Di sisi pasokan, laporan dari Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan stok minyak mentah Amerika turun 3,2 juta barel menjadi 419 juta barel dalam sepekan. Angka ini jauh lebih besar dari perkiraan analis yang hanya memprediksi penurunan 1,6 juta barel.
Di tengah pasar yang sensitif terhadap geopolitik, Rusia dan Ukraina juga menggelar pembicaraan damai di Istanbul pada Rabu. Keduanya membahas pertukaran tahanan lanjutan, meskipun masih belum ada kesepakatan soal gencatan senjata dan pertemuan antara pemimpin kedua negara.
Sementara itu, ekspor minyak dari Kazakhstan lewat pelabuhan utama Rusia di Laut Hitam sempat terhenti. Dua sumber industri mengatakan larangan sementara terjadi karena adanya regulasi baru terhadap tanker asing.
Menteri Energi AS juga menyatakan pada Selasa bahwa pemerintahnya mempertimbangkan sanksi tambahan terhadap minyak Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina. Sedangkan Uni Eropa telah menyetujui paket sanksi ke-18 terhadap Rusia yang mencakup penurunan batas harga untuk minyak mentah negara tersebut.
