STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) melaporkan pertanggungjawaban penggunaan dana hasil Penawaran Umum Terbatas (PUT) V dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau Rights Issue. Aksi korporasi ini telah efektif sejak 18 November 2021 lalu.
Eri Budiono, Direktur Utama BBYB, menyampaikan laporan tersebut kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Surat penyampaian laporan tertanggal 14 Januari 2026.
Dalam aksi korporasi ini, Perseroan berhasil meraup dana kotor sebesar Rp2,505 triliun. Setelah dikurangi biaya-biaya penawaran umum senilai Rp2,541 miliar, BBYB mengantongi hasil bersih mencapai Rp2,502 triliun.
Hingga periode 31 Desember 2025, manajemen BBYB melaporkan bahwa seluruh dana tersebut sudah ludes terpakai. Tidak ada lagi sisa dana yang mengendap di rekening perusahaan.
“Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No 30/POJK.04/2015 tanggal 16 Desember 2015 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum, terlampir bersama surat ini kami sampaikan Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum V PT Bank Neo Commerce, Tbk per 31 Desember 2025 dimana seluruh dana hasil penawaran umum telah habis digunakan,” ujar Eri dalam keterbukaan informasi dikutip Kamis (15/1/2026).
Berdasarkan data realisasi, porsi terbesar penggunaan dana lari ke kegiatan operasi perbankan. Jumlahnya mencapai Rp1 triliun. Angka ini setara dengan sekitar 40% dari target alokasi.
Selanjutnya, BBYB menggelontorkan dana jumbo untuk pengembangan teknologi informasi. Nilainya sebesar Rp681,451 miliar. Hal ini sejalan dengan fokus bank digital tersebut dalam memperkuat infrastruktur teknologinya.
Perseroan juga menggunakan dana hasil rights issue untuk ekspansi bisnis berupa penyaluran kredit. Dana yang terserap untuk pos ini tercatat sebesar Rp444,8 miliar.
Terakhir, dana sebesar Rp375,.415 miliar dipakai untuk memperkuat rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM). Seluruh realisasi ini sudah sesuai dengan rencana penggunaan dana yang ditetapkan sebelumnya.
Sebagai informasi tambahan, total biaya penawaran umum yang dikeluarkan BBYB sebesar Rp2,54 miliar terdiri dari beberapa komponen. Biaya terbesar adalah jasa lembaga penunjang pasar modal senilai Rp884,75 juta. Diikuti oleh biaya jasa profesi penunjang pasar modal sebesar Rp866,21 juta, serta biaya jasa konsultasi keuangan senilai Rp770 juta.
