Rabu, Januari 21, 2026
28.6 C
Jakarta

Karena Hal Ini, Bursa Saham Wall Street Berakhir Beragam!

STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Bursa Saham Wall Street berakhir beragam pada penutupan perdagangan Kamis (31/8/2023) waktu setempat atau Jumat (31/8/2023) WIB. Dari ketiga indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS), Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan indeks S&P 500 melemah.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York, AS ditutup terpangkas 168,33 poin, atau sekitar 0,48% menjadi 34.721,91 poin. Indeks S&P 500 berakhir berkurang 7,21 poin, atau sekitar 0,16% menjadi 4.507,66 poin. Indeks komposit Nasdaq ditutup bertambah 15,66 poin, atau sekitar 0,11% menjadi 14.034,97.

Dalam sebulan terakhir, ketiga indeks utama tersebut mencatat kerugian. S&P 500 dan Nasdaq menderita penurunan bulanan pertama sejak Februari. Pada Agustus, S&P 500 anjlok 1,8%, DJIA merosot 2,4% dan Nasdaq turun 2,2%.

Dari 11 indeks sektor utama S&P 500, tujuh diantaranya berakhir pada zona merah. Sektor kesehatan memimpin pelemahan dengan penurunan 1,21%. Selanjutnya sektor utilitas dengan kejatuhan mencapai 1,03%. Nasdaq mencapai level tertinggi dalam lebih dari empat pekan setelah Departemen Perdagangan AS merilis laporan yang menunjukan indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang dianggap sebagai ukuran inflasi pilihan bank sentral, meningkat 3,3% pada Juli secara tahunan, sesuai dengan ekpektasi.

Di luar volatilitas harga makanan dan energi, indeks harga belanja konsumsi pribadi inti naik 4,2% pada Juli, sesuai dengan estimasi.

Berdasarkan data tersebut investor semakin meyakini bahwa Federal Reserve  (The Fed) tidak akan menaikan suku bunga dalam waktu dekat. Mengacu pada instrumen FedWatch CME Group, kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September mencapai 88,5%, sedangkan pada November mencapai 51%.

Data non-farm payrolls yang akan dirilis pada Jumat (1/9/2023) waktu setempat akan semakin memperjelas kemana arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya.

Sementara itu, imbal hasil obligasi 10 tahun AS turun menjadi 4,09%. Ini membuat saham pertumbuhan seperti Amazon naik 2,2%. Tesla tercatat menjadi saham yang paling banyak diperdagangkan, mencapai US$27,7 miliar, naik 0,46%.

Saham Salesforce menanjak 3% usai pendapatan perusahaan pengembang piranti lunak tersebut diperkirakan akan mengalami peningkatan seiring terjadinya lonjakan harga dan membaiknya permintaan.

Data yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan jumlah klaim tunjangan pengangguran turun menjadi 228.000 pada pekan yang berakhir 26 Agustus, lebih rendah dari estimasi 235.000.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Puluhan Ribu Ton Batubara Tak Bertuan di Kutai Kartanegara Diamankan Kementerian ESDM

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Ditjen Gakkum)...

Ahmad Yani Resmi Jadi Direktur Utama PGEO, Targetkan Kapasitas 1 GW dalam 3 Tahun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO)...

PT Vale (INCO) Beberkan RKAB 2026 dan Progres Proyek Strategis di Hadapan Komisi XII DPR

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) — PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menghadiri...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru