STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 1% pada akhir perdagangan Senin (9/2/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (10/2/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh peringatan keamanan dari Pemerintah Amerika Serikat (AS) bagi kapal-kapal yang melintasi wilayah dekat Iran.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik 0,99 USD atau 1,45%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 69,04 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terangkat 0,81 USD atau 1,27%. Minyak WTI berakhir pada posisi 64,36 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Departemen Transportasi AS mengeluarkan imbauan kepada kapal-kapal berbendera AS. Mereka diminta tetap berada sejauh mungkin dari wilayah Iran saat melewati Selat Hormuz dan Teluk Oman.
Lembaga Administrasi Maritim AS mencatat adanya risiko kapal dihadang oleh pasukan Iran. Kejadian terbaru dilaporkan terjadi pada 3 Februari lalu. Kapal-kapal pun disarankan tetap berada di dekat wilayah Oman saat menuju ke arah timur di Selat Hormuz.
Imbauan ini memicu kembali kekhawatiran gangguan pasokan minyak mentah dunia akibat tensi AS dan Iran. Perlu diketahui, sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz yang terletak di antara Oman dan Iran.
Bjarne Schieldrop, analis dari SEB, memberikan pandangannya terkait situasi geopolitik ini. Menurutnya, risiko terkait Iran akan terus membayangi pasar selama militer AS masih berjaga di kawasan tersebut.
“Premi risiko Iran tidak dapat sepenuhnya diredakan selama kapal perang AS berada di lokasi mereka sekarang,” ujar Bjarne Schieldrop.
Sebelumnya, harga minyak sempat turun pada awal sesi perdagangan. Penurunan itu melanjutkan kerugian pekan lalu setelah AS dan Iran berjanji melanjutkan pembicaraan tidak langsung. Kedua belah pihak sempat menyebut diskusi tersebut berlangsung positif.
Namun, situasi kembali memanas pada Sabtu lalu. Menteri Luar Negeri Iran menyatakan negaranya akan menyerang pangkalan AS di Timur Tengah jika diserang oleh pasukan AS. Hal ini merespons peningkatan kehadiran angkatan laut AS di kawasan tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Giovanni Staunovo, analis minyak dari UBS, mengaku sulit memprediksi arah perkembangan konflik ini. Ia memilih untuk memantau situasi secara harian.
“Sangat sulit untuk menilai bagaimana perkembangannya,” kata Giovanni Staunovo. “Memantau hari demi hari, sekarang mencari tanggal yang akan ditetapkan untuk pembicaraan putaran kedua.”
Investor saat ini juga memantau upaya negara Barat membatasi pendapatan minyak Rusia. Komisi Eropa mengusulkan larangan menyeluruh terhadap layanan yang mendukung ekspor minyak mentah Rusia melalui laut.
Langkah ini mulai berdampak pada India yang sebelumnya menjadi pembeli terbesar minyak Rusia. Sejumlah sumber menyebut perusahaan penyulingan di India mulai menghindari pembelian untuk pengiriman April. Analis minyak dari Sparta menilai penghentian pembelian oleh India akan menjadi perkembangan positif bagi kenaikan harga minyak.
Di sisi lain, ada kabar perkembangan produksi dari Kazakhstan. Produksi di ladang minyak raksasa Tengiz dilaporkan telah pulih ke level 60%. Ladang minyak yang dipimpin oleh Chevron ini menargetkan produksi kembali normal sepenuhnya pada 23 Februari mendatang.
