STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup menguat pada perdagangan Jumat (9/1/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (10/1/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan produksi di Iran. Ketidakpastian pasokan dari Venezuela turut mendorong harga ke zona hijau.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman mendatang naik USD 1.45 atau 2.34%. Harga berakhir di level USD 63.44 per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meningkat USD 1.48 atau 2.56% ke posisi USD 59.24 per barel, di New York Mercantile Exchange.
Kedua tolok ukur harga minyak ini sempat melonjak lebih dari 3% pada hari Kamis. Penguatan tersebut terjadi setelah harga mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut.
Sepanjang pekan ini, Brent berada dalam jalur kenaikan sebesar 2.8%. Untuk WTI, kenaikan tercatat mencapai 1.5% dalam periode yang sama.
Kerusuhan sipil di Iran menjadi perhatian utama para pelaku pasar. Iran merupakan salah satu produsen minyak utama di Timur Tengah. Gejolak ekonomi di negara tersebut dikhawatirkan mengganggu stabilitas ekspor.
Ole Hansen, Head of Commodity Analysis Saxo Bank, memberikan analisisnya terkait situasi ini. “Protes di Iran tampaknya semakin menguat, memicu kekhawatiran pasar akan adanya gangguan,” ujarnya.
Laporan kelompok pemantau internet NetBlocks menyebutkan adanya pemadaman internet nasional di Iran pada hari Kamis. Aksi protes dilaporkan meluas di Teheran, Mashhad, Isfahan, dan kota-kota besar lainnya.
Faktor lain yang mengerek harga adalah situasi di Venezuela. Gedung Putih dijadwalkan bertemu dengan perusahaan minyak dan rumah dagang pada Jumat. Pertemuan ini bertujuan membahas kesepakatan ekspor minyak Venezuela.
Donald Trump menuntut akses penuh bagi Amerika Serikat (AS) ke sektor minyak Venezuela. Tuntutan ini muncul hanya beberapa hari setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Pejabat AS menyatakan Washington akan mengendalikan penjualan minyak negara tersebut tanpa batas waktu.
Saat ini, perusahaan minyak raksasa Chevron Corp sedang bersaing mendapatkan kesepakatan pemasaran minyak. Rumah dagang global seperti Vitol dan Trafigura juga mengincar kontrak serupa.
Mereka memperebutkan akses hingga 50 juta barel minyak milik perusahaan minyak negara PDVSA. Stok tersebut menumpuk akibat embargo minyak yang ketat selama ini.
Tina Teng, Market Strategist Moomoo ANZ, ikut berkomentar mengenai perkembangan ini. “Pasar akan fokus pada hasil dalam beberapa hari ke depan mengenai bagaimana minyak Venezuela dalam penyimpanan akan dijual dan dikirim,” tuturnya.
Ketegangan antara Rusia dan Ukraina juga menambah ketidakpastian pasar. Militer Rusia melaporkan penggunaan rudal hipersonik Oreshnik ke sasaran di Ukraina. Serangan tersebut menyasar infrastruktur energi yang mendukung kompleks militer-industri Ukraina.
Hal ini memicu kekhawatiran baru terhadap ekspor minyak Rusia ke pasar global. Namun, kenaikan harga minyak masih dibayangi oleh melimpahnya pasokan dunia.
Haitong Futures menyebut stok minyak global saat ini terus meningkat. Kondisi kelebihan pasokan ini dinilai tetap menjadi faktor utama yang dapat membatasi penguatan harga lebih lanjut.
