Stockwatch.id Versi penuh
Financial

KIJA Rugi Rp6,4 Miliar pada Semester I 2026, Ini Penyebab Utamanya

Oleh John Mbaling 03 Aug 2026 08:12 4 menit baca

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar pada semester I-2026. Padahal, secara operasional perseroan masih mencatat laba. Kerugian tersebut dipicu beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) akibat refinancing Senior Notes menjadi pinjaman bank.


 


Budianto Liman, Wakil Direktur Utama KIJA, mengemukakan, KIJA mencatat pendapatan sebesar Rp2,44 triliun per 30 Juni 2026, turun 11% dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp2,73 triliun. Sementara itu, laba operasional tercatat Rp524 miliar, lebih rendah dari Rp822,8 miliar pada semester I-2025.


 


Budianto menjelaskan, rugi bersih terutama berasal dari biaya refinancing Senior Notes berdenominasi Dolar AS menjadi fasilitas pinjaman bank dalam mata uang rupiah. Beban tersebut meliputi rugi selisih kurs, penghentian instrumen lindung nilai (hedging), serta percepatan amortisasi Senior Notes yang jatuh tempo pada 2027.


 


Menurut Budianto, langkah ini dilakukan untuk memperkuat struktur permodalan, memperpanjang jatuh tempo utang hingga 15 tahun, mengurangi risiko nilai tukar, serta meningkatkan fleksibilitas keuangan Perseroan.


 


Di luar beban tersebut, bisnis operasional KIJA tetap mencetak laba. Penurunan laba operasional terutama dipengaruhi lebih rendahnya pengakuan pendapatan penjualan lahan industri akibat perbedaan waktu pengakuan pendapatan di Kendal.


 


Kinerja positif justru datang dari Pilar Infrastruktur. Pendapatan segmen ini naik 15% menjadi Rp1,40 triliun dari Rp1,22 triliun pada semester I-2025. Kontribusi pendapatan berulang (recurring revenue) juga meningkat menjadi 57% dari total pendapatan konsolidasian, dibandingkan 45% pada periode yang sama tahun lalu.


 


Pertumbuhan tersebut didorong peningkatan pendapatan segmen listrik menjadi Rp921,6 miliar dari Rp849,1 miliar, seiring naiknya konsumsi listrik tenant di Kendal dan Cikarang. Pendapatan jasa dan pemeliharaan melonjak 39% menjadi Rp347,2 miliar, sedangkan pendapatan Cikarang Dry Port meningkat menjadi Rp129,4 miliar, ditopang kenaikan volume peti kemas sebesar 13%.


 


Sebaliknya, pendapatan Pilar Pengembangan Lahan dan Properti turun 32% menjadi Rp974,9 miliar dari Rp1,44 triliun. Penurunan dipicu turunnya pendapatan penjualan lahan industri menjadi Rp783,7 miliar, meski penjualan bangunan pabrik siap pakai meningkat menjadi Rp94,3 miliar dan penjualan lahan serta rumah hunian naik menjadi Rp33,7 miliar.


 


Dari sisi profitabilitas, laba bruto KIJA tercatat Rp840,5 miliar dengan marjin bruto 34%, turun dari Rp1,12 triliun dengan marjin 41% pada semester I-2025. EBITDA juga turun 25% menjadi Rp747,7 miliar. Perseroan mencatat rugi selisih kurs sebesar Rp280,7 miliar, kerugian penghentian instrumen lindung nilai Rp154,6 miliar, serta percepatan amortisasi Senior Notes sebesar Rp24,9 miliar.


 


Sepanjang semester I-2026, marketing sales KIJA mencapai Rp1,19 triliun atau sekitar 32% dari target tahun ini sebesar Rp3,75 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari Kendal yang menyumbang 71%, didukung penjualan lahan kepada produsen baterai dan produsen peralatan rumah tangga asal Indonesia. Sementara Cikarang dan wilayah lainnya berkontribusi 29%, antara lain dari penjualan lahan kepada perusahaan tekstil Indonesia dan importir bahan bangunan asal Tiongkok.


 


Budianto mengatakan, pertumbuhan bisnis infrastruktur menjadi penopang utama kinerja perseroan di tengah penurunan kontribusi bisnis pengembangan lahan.


 


"Kinerja kami pada semester pertama mencerminkan semakin besarnya kontribusi bisnis infrastruktur yang menghasilkan pendapatan berulang, yang kini telah menyumbang lebih dari separuh pendapatan konsolidasian Perseroan,” katanya dalam keterangan resmi, dikutip Senin (03/8/2026).


 


Meskipun kinerja keuangan pada semester pertama dipengaruhi oleh lebih rendahnya kontribusi bisnis pengembangan lahan dibandingkan semester pertama tahun lalu yang sangat kuat, rugi bersih yang dilaporkan terutama disebabkan oleh biaya satu kali yang bersifat non-operasional berupa rugi selisih kurs dan penghentian instrumen derivatif terkait refinancing Senior Notes kami.


 


Di luar pos-pos yang tidak berulang tersebut, Jababeka tetap mencatatkan laba pada tingkat operasional. “Kami terus melihat permintaan yang baik terhadap lahan industri baik di Cikarang maupun Kendal, sembari tetap fokus pada eksekusi yang disiplin di seluruh lini bisnis serta memperkuat basis pendapatan berulang kami," katanya.


 

Ke depan, KIJA tetap membidik target marketing sales sebesar Rp3,75 triliun pada 2026. Perseroan juga akan terus meningkatkan kontribusi pendapatan berulang melalui bisnis infrastruktur. Manajemen optimistis permintaan tenant industri di kawasan Cikarang dan Kendal akan terus menopang pertumbuhan bisnis utilitas, logistik, dan layanan pengelolaan kawasan dalam jangka panjang.