STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Indonesia resmi memasuki era baru bahan bakar ramah lingkungan. Kilang Pertamina di Balikpapan kini mampu memproduksi bahan bakar minyak (BBM) setara standar Euro 5. Langkah besar ini mendukung industri otomotif modern sekaligus mengejar target Net Zero Emission.
Presiden Prabowo Subianto meresmikan mega proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan ini pada Senin (12/1). Kehadiran kilang tersebut menjadi bukti komitmen Indonesia menjaga iklim global. Pemerintah menargetkan penurunan emisi sebesar 29% secara mandiri hingga 41% dengan bantuan internasional pada 2030.
Pengamat otomotif Bebin Djuana menyambut baik pengoperasian kilang baru ini. Menurutnya, standar kualitas BBM Indonesia kini tidak lagi tertinggal. Kehadiran Euro 5 akan mengubah citra dunia otomotif terkait polusi udara.
”Mata dunia bisa melihat Indonesia sudah mampu memproduksi BBM setara standar Euro 5 sebagaimana Malaysia dan negara-negara maju lainnya,” ujar Bebin dikutip Sabtu (17/1/2026).
Ia menilai mesin kendaraan akan jauh lebih terawat dengan bahan bakar berkualitas. Polusi udara di tanah air pun diharapkan bisa berkurang drastis. Ia berharap kilang-kilang Pertamina lainnya segera menyusul langkah ini.
”Euro 5 itu membuat mesin jadi bersih dan kualitas udara jadi lebih baik,” tutur Bebin Djuana.
Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), Ahmad Safrudin, turut memberikan tanggapannya. Ia menyebut pembahasan modernisasi kilang ini sebenarnya sudah berlangsung lama sejak 2012. Ahmad mendorong pemerintah terus beralih ke BBM bersih dan menghentikan penjualan produk rendah kualitas.
Pria yang akrab disapa Puput ini berharap Presiden Prabowo serius mewujudkan ketahanan energi nasional. Penyediaan udara bersih merupakan mandat konstitusi sesuai UUD 45 Pasal 28 H. Pemerintah wajib menyusun kebijakan lingkungan yang berkelanjutan.
”Semoga presiden serius dalam mewujudkan RDMP selama 3 tahun ke depan,” ujar Ahmad Safrudin.
Dari sisi lingkungan, BBM standar Euro 5 mampu mengurangi emisi Nitrogen Oksida (NOx) secara signifikan. Partikulat padat yang menjadi penyebab utama polusi udara di kota besar juga terpangkas. Investasi teknologi ini memastikan setiap liter BBM memiliki jejak karbon yang lebih kecil.
Optimalisasi kilang di Kalimantan ini turut memperkuat kedaulatan energi nasional. Produksi dalam negeri berhasil mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Selain itu, proyek besar ini menciptakan banyak lapangan kerja bagi tenaga ahli lokal di Kalimantan.
