STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatat kinerja keuangan yang gemilang sepanjang tahun 2025. Perseroan berhasil meraup laba bersih sebesar Rp3,5 triliun.
Angka tersebut meningkat sebesar 16,4% dibandingkan perolehan di periode yang sama tahun sebelumnya sekitar Rp3 triliun. Pertumbuhan laba yang signifikan ini ditopang oleh penyaluran kredit yang positif dan efisiensi proses bisnis.
Wakil Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), Oni Febriarto Rahardjo menyampaikan pencapaian ini dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (9/2/2026). Selain laba, aset BTN juga mengalami peningkatan sebesar 12,4%.
Hingga akhir 2025, total aset BTN mencapai Rp527,8 triliun secara konsolidasi. Pada tahun 2024, posisi aset bank spesialis perumahan ini berada di angka Rp469,61 triliun.
“Tahun 2025 aset BTN mengalami peningkatan 12,4%. Dari Rp527 triliun itu, Rp73 triliun berasal dari Syariah yang sudah spin-off per 22 Desember 2025,” ujar Oni.
Pertumbuhan kredit BTN tercatat sebesar 11,9% atau menembus angka Rp400,57 triliun dari Rp357,97 triliun pada 2024. Capaian ini melampaui rata-rata industri perbankan nasional yang berada di level 9%.
“Kredit BTN sudah tembus Rp400 triliun. Ini pertumbuhan tertinggi yang BTN capai dalam lima tahun terakhir,” kata Oni.
Penyaluran KPR subsidi masih menjadi motor utama dengan pertumbuhan 10% menjadi Rp191 triliun. Sementara itu, KPR non-subsidi tumbuh 8,7% pada periode yang sama.
Secara keseluruhan, kredit di sektor perumahan menyumbang Rp328 triliun bagi portofolio BTN. Sektor ini mencatatkan kenaikan cukup tinggi mencapai 17,5%.
Kualitas kredit BTN tetap terjaga dengan baik. Rasio kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) berada di level 3,1%. Perseroan juga memperkuat pencadangan dengan NPL coverage sebesar 123,9%.
Margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) BTN melonjak ke level 4,21%. Angka ini jauh membaik dibandingkan posisi tahun 2024 yang hanya sebesar 2,8%.
Kenaikan NIM ini dipengaruhi oleh keberhasilan BTN menekan biaya dana atau cost of fund menjadi 3,9%. Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi pengumpulan dana murah melalui aplikasi digital.
SuperApp Balie milik BTN kini memiliki 3,7 juta pengguna, melonjak 66% dibandingkan tahun lalu. Jumlah transaksi melalui aplikasi ini mencapai 2,2 miliar transaksi dengan nilai nominal Rp103 triliun.
Oni Febriarto Rahardjo menambahkan, dana murah dari tabungan dan giro (CASA) sangat mendukung efisiensi biaya dana. Dana yang mengendap dari transaksi digital tersebut mencapai Rp22 triliun.
Dari sisi permodalan, BTN menjaga rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) pada level 20,9%. Perseroan optimis ketahanan modal ini mampu mengantisipasi potensi tekanan ekonomi di masa mendatang.
Dana Pihak Ketiga (DPK) BTN juga tumbuh subur sebesar 14,6%. Hingga Desember 2025, total dana masyarakat yang dikelola BTN mencapai Rp437 triliun.
“Laba BTN bisa mencapai Rp3,4 triliun di 2025. Kita tumbuh 16,4% dibandingkan tahun sebelumnya,” pungkas Oni.
