Laba Tergerus Pencadangan, Saham BBNI Masih Layak Koleksi? Cek Target Harganya

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan kinerja yang cukup menantang sepanjang tahun 2025. Laba bersih bank pelat merah ini mengalami koreksi dibandingkan tahun sebelumnya.

Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama mengungkapkan, BNI membukukan laba bersih sebesar Rp20 triliun pada tahun buku 2025. Angka ini menyusut 6,6% secara tahunan (Year on Year/YoY).

Penurunan laba tersebut terutama dipicu oleh lonjakan biaya pencadangan. Manajemen BNI memutuskan untuk mengambil langkah yang lebih hati-hati atau konservatif, khususnya pada kuartal keempat 2025.

“Laba bersih BBNI terkontraksi akibat biaya pencadangan yang lebih tinggi karena manajemen mengambil sikap yang lebih konservatif,” ujar Ezaridho di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Selain beban pencadangan, profitabilitas bank juga tertekan oleh penyusutan margin. Marjin Bunga Bersih atau Net Interest Margin (NIM) BNI turun menjadi 3,8% pada 2025, dibandingkan 4,2% pada tahun sebelumnya.

Pendapatan Bunga Bersih (NII) tercatat relatif stabil meski turun tipis 0,4% menjadi Rp40,3 triliun. Namun, penurunan ini berhasil diredam oleh kinerja positif dari sisi pendapatan operasional lainnya.

Pendapatan Non-Bunga atau Non-Interest Income BNI tumbuh 5,2% menjadi Rp24,6 triliun. Kenaikan ini ditopang oleh pendapatan berulang (recurring income) dari biaya dan komisi, serta pendapatan perdagangan (trading income) yang lebih tinggi.

Sementara itu, beban operasional perseroan tercatat naik moderat sebesar 6,0% menjadi Rp30,9 triliun. Hal ini membuat Laba Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) turun 6,6% menjadi Rp34,12 triliun.

Menatap tahun 2026, NH Korindo Sekuritas memproyeksikan kinerja BNI akan mengalami pemulihan moderat. Laba bersih diperkirakan tumbuh 3,1% menjadi Rp20,7 triliun.

Pertumbuhan ini didukung oleh kualitas aset yang stabil serta perbaikan struktur pendanaan. Kendati demikian, tekanan pada NIM diprediksi masih akan berlanjut ke level 3,6% seiring potensi penurunan suku bunga dan persaingan harga yang ketat.

“Kami memperkirakan laba bersih tahun 2026 akan tumbuh moderat didukung oleh kualitas aset yang stabil dan biaya operasional yang terkendali,” tambah Ezaridho.

Meskipun menghadapi tekanan jangka pendek, saham BBNI dinilai masih memiliki prospek menarik. NH Korindo Sekuritas mempertahankan rekomendasi Beli atau Overweight untuk saham bank BUMN ini.

Target harga saham BBNI dipatok di level Rp5.050 per lembar. Angka ini mengindikasikan adanya potensi keuntungan (upside) sebesar 14,0% dari harga saat ini.

Beberapa katalis positif yang bisa mendorong harga saham antara lain pemulihan operasional yang lebih kuat serta momentum pertumbuhan kredit yang terjaga. Namun, investor juga perlu mewaspadai risiko ketidakpastian makroekonomi dan persaingan industri yang makin ketat.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Diversifikasi Bisnis, Sinergi Inti (INET) Tambah Lini Usaha Perdagangan Besar Telekomunikasi

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) -  PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) atau...

RUPSLB HERO Setujui Perombakan Pengurus, Wee Lee Loh Jabat Komisaris Baru

STOCKWATCH.ID (TANGERANG SELATAN) – PT DFI Retail Nusantara Tbk...

United Tractors Jual Alat Berat Komatsu 869 Unit per Februari 2026, Turun 10,5%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Penjualan alat berat Komatsu milik PT...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru