back to top

Laba Vale Indonesia (INCO) Melonjak 31,68% jadi USD 76,06 Juta Sepanjang 2025

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencetak performa gemilang pada tahun buku 2025. Emiten pertambangan nikel ini berhasil meraup laba tahun berjalan sebesar USD 76,06 juta. Perolehan ini melonjak 31,68% jika dibandingkan laba tahun 2024 yang tercatat USD 57,76 juta.

Merujuk laporan keuangan per 31 Desember 2025 yang dirilis Senin (16/3/2026), laba per saham dasar dan dilusian ikut terkerek. Nilainya naik menjadi USD 0,0072 per saham dari posisi sebelumnya USD 0,0056 per saham.

Kenaikan laba ini sejalan dengan pertumbuhan pendapatan. INCO mengantongi pendapatan sebesar USD 990,19 juta pada 2025. Angka ini tumbuh 4,19% dari raihan tahun 2024 senilai USD 950,39 juta.

Kontributor utama pendapatan berasal dari penjualan nikel matte kepada pihak berelasi (ekspor) senilai USD 888,58 juta. Itu erutama di Kanada dan Jepang. Selain itu, Perseroan mulai membukukan pendapatan dari penjualan bijih nikel secara lokal kepada pihak ketiga sebesar USD 101,61 juta. Padahal, pada tahun sebelumnya belum ada pendapatan dari lini ini.

Seiring kenaikan pendapatan, beban pokok pendapatan juga merangkak naik. Pos ini tercatat USD 879,34 juta pada 2025, meningkat dari USD 842,16 juta pada 2024. Meski biaya meningkat, Perseroan masih mencatat laba bruto USD110,85 juta pada 2025, sedikit lebih tinggi dibanding USD108,23 juta pada 2024.

Dari sisi pengeluaran operasional, beban usaha meningkat menjadi USD 52,18 juta dari USD 38,25 juta. Kenaikan biaya produksi terutama dipicu oleh sejumlah komponen utama, antara lain bahan bakar dan pelumas, jasa kontraktor, depresiasi, bahan pembantu, biaya karyawan, hingga royalti dan pajak. Beban keuangan juga naik menjadi USD 8,65 juta dari posisi USD 7,42 juta pada tahun sebelumnya.

Akibatnya, laba usaha Perseroan turun menjadi USD41,43 juta, dibanding USD63,82 juta pada 2024. Namun penurunan laba usaha tertutup oleh berbagai pendapatan lain di luar operasi. Perseroan mencatat keuntungan dari pengakuan nilai wajar aset derivatif sebesar USD16,57 juta. Realisasi ini berbanding terbalik dengan tahun 2024 yang mencatat kerugian aset derivatif USD 19,94 juta. Selain itu, pendapatan keuangan tercatat USD37,26 juta, serta keuntungan dari investasi dan entitas asosiasi.

Kombinasi faktor tersebut mendorong laba sebelum pajak penghasilan meningkat menjadi USD94,53 juta, dibanding USD74,06 juta pada tahun sebelumnya.

Setelah dikurangi beban pajak penghasilan USD18,47 juta, Perseroan membukukan laba bersih USD76,06 juta pada 2025.

Dari sisi neraca keuangan, total aset Vale Indonesia per 31 Desember 2025 tercatat USD3,35 miliar, meningkat sekitar 5,33% dibanding USD3,18 miliar pada akhir 2024.

Sementara itu, total liabilitas Perseroan naik menjadi USD570,77 juta dari USD443,75 juta pada 2024.

Adapun total ekuitas Perseroan tercatat USD2,78 miliar pada akhir 2025, meningkat dibanding USD2,73 miliar pada tahun sebelumnya.

Secara operasional, Vale Indonesia beroperasi dalam satu segmen usaha utama, yakni penambangan dan pengolahan nikel di Indonesia.

Kinerja 2025 menunjukkan pertumbuhan laba yang cukup kuat, meski Perseroan masih menghadapi tekanan biaya operasional dan pembatasan kuota produksi di beberapa blok tambang.

- Advertisement -

Artikel Terkait

BNI Tambah Kredit Rp10 Triliun ke Pegadaian, Total Pembiayaan Tembus Rp25,1 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk...

Bukan Cuma Bank KPR, BTN Kini Menjelma Jadi ‘Supermarket’ Keuangan Keluarga

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk...

Kinerja Solid , Central Omega (DKFT) Cetak Laba Bersih Rp574,39 Miliar pada 2025

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Manajemen PT Central Omega Resources Tbk (DKFT)...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru