STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan tahun 2026 dengan performa gemilang. Pada pembukaan perdagangan Jumat (2/1/2026), IHSG terpantau menguat di posisi 8.676,71. Tren positif ini terus bertahan hingga penutupan perdagangan saham.
IHSG berakhir menguat 101,193 poin atau melejit 1,17% ke level 8.748,132. Angka ini meningkat signifikan dari penutupan Selasa (30/12/2025) yang berada di posisi 8.646,938. Lonjakan indeks pada hari pertama bursa tersebut memicu optimisme besar dari pemerintah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merasa optimis IHSG dapat menembus level 10.000 pada tahun 2026. Fondasi ekonomi nasional yang semakin membaik menjadi dasar utama optimisme tersebut. Sinergi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) turut menjadi faktor pendorong utama lainnya.
Purbaya menilai penguatan indeks di awal tahun merupakan sinyal positif dari pelaku pasar. Kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan terlihat semakin nyata. Hal ini ia sampaikan usai menghadiri acara Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2026.
“Saya pikir sih memang itu optimisme di pasar, artinya pasar bahwa kita akan naik terus ke depan,” ujar Purbaya.
Senada dengan pemerintah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta Utama, S.I.P., M.Si., CTA, CSA, memberikan proyeksi lebih tinggi. Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG pada 2026 berada pada 10.500. Angka tersebut melampaui target yang dipasang oleh Menteri Keuangan.
Pandangan lain datang dari Chory Agung Ramdhani selaku Customer Engagement & Market Analyst Departemen Head BRI Danareksa Sekuritas. Ia memandang pasar modal Indonesia pada 2026 berada dalam fase normalisasi dengan karakter selektif. Kinerja IHSG tidak lagi didorong oleh euforia likuiditas.
Menurut Chory, earnings quality dan konsistensi fundamental akan menjadi penggerak utama. Investor domestik diproyeksikan tetap menjadi motor penggerak IHSG. Hal ini seiring semakin kuatnya basis ritel aktif dan institusi lokal di tanah air.
Sementara itu, investor asing cenderung lebih selective buying. Mereka sangat sensitif terhadap dinamika global, terutama arah suku bunga dan risiko geopolitik. BRI Danareksa Sekuritas menetapkan target base case IHSG di level 9.440 dan bull case mencapai 9.820. Adapun untuk skenario bear case berada pada posisi 9.135.
Proyeksi tersebut menggunakan asumsi pertumbuhan EPS 2026 sekitar 8%. Valuasi P/E berada pada 14,2x yang merupakan rata-rata historis saham fundamental. Terdapat pula premi 40% untuk saham konglomerasi dan saham berpotensi masuk indeks utama.
Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada, menyebut tahun 2026 sebagai tahun Kuda Emas. Kapitalisasi pasar diperkirakan akan meningkat namun tetap cenderung fluktuatif. Imbas global seperti ketidakpastian The Fed dan konflik di sejumlah kawasan masih membayangi pergerakan pasar.
Reza memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 8.500 hingga 10.500. Asumsi ini muncul jika ada peluang pertumbuhan yang sama dengan pencapaian tahun 2025. Sepanjang 2025, IHSG telah naik 22%. Jika tahun 2026 kenaikannya sama, maka angka 10.500 tersebut dapat tercapai.
Yulinda Hartanto, CFA selaku VP Equity Research PT BNI Sekuritas turut memberikan proyeksi akhir tahun. Ia menetapkan target IHSG akhir 2026 pada level 9.100. Angka ini setara dengan P/E ±13x atau sekitar 0,9 standar deviasi di bawah rerata 5 tahun. Valuasi tersebut ia nilai masih tergolong wajar dalam siklus pemulihan ekonomi.
