back to top

Lepas dari Status Kahar, Amman Mineral (AMMN) Kebut Perbaikan Smelter Raksasa

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terus memacu perbaikan dan pemulihan operasional fasilitas pabrik peleburan atau smelter. Langkah strategis ini digeber usai perseroan sempat menghadapi kondisi kahar (force majeure) beberapa waktu lalu.

Proses konstruksi fisik smelter raksasa ini sejatinya sudah tuntas secara keseluruhan. Saat ini, para teknisi di lapangan tengah berfokus pada tahap pengujian (commissioning) serta peningkatan kapasitas produksi (ramp up).

Operasional fasilitas pemurnian berkapasitas input 900 ribu ton ini sudah mulai berjalan kembali secara bertahap. Sejak awal tahun, proses produksi dilakukan secara parsial sembari memperbaiki berbagai kendala teknis yang tersisa.

Manajemen mengakui pengoperasian fasilitas pemurnian memiliki tantangan tersendiri. Keahlian utama perseroan selama ini berpusat pada sektor eksplorasi dan pertambangan, bukan pengolahan tingkat lanjut.

“Berhadapan dengan elemen-elemen baru seperti sulfur itu sesuatu yang juga kita sambil belajar. Harapannya dalam proses pembelajaran ini perbaikan juga jalan, jadi bisa ramp up sesuai ekspektasi,” kata Kartika Octaviana, Vice President of Corporate Communications and Investor Relations AMMN, di Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Penyelesaian kendala smelter ini berkejaran dengan tenggat waktu dari pemerintah. Kelonggaran atau relaksasi ekspor konsentrat tembaga bagi perusahaan tambang akan berakhir pada akhir April mendatang.

Terkait sisa waktu satu setengah bulan ini, fokus utama perusahaan sepenuhnya tertuju pada optimalisasi kelancaran operasional pabrik. Belum ada rencana pasti mengenai pengajuan perpanjangan izin ekspor lanjutan.

“Kita lihat sampai nanti akhir April semoga semuanya lancar. Kami memang belum untuk declare akan mengajukan lagi, kita fokus pada apa yang kita punya dulu sekarang,” tambah Kartika.

Secara umum, tren pemulihan pasca-kahar ini diklaim berjalan jauh lebih cepat dari ekspektasi awal. Padahal, jika merujuk pada standar global, sebuah smelter baru umumnya membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun untuk bisa beroperasi mencapai kapasitas maksimal. Manajemen berupaya keras mempercepat proses ini agar operasional fasilitas dapat segera optimal tanpa hambatan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

BUMI dan RMKE Teken Kerja Sama Logistik Batubara di Sumsel, Target Angkutan 12,7 Juta Ton

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT RMK Energy Tbk (RMKE) menandatangani...

Mantap! Investasi dan Operasional AMMAN Suntik Ekonomi RI Rp173 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas...

OJK Cabut Izin Usaha BPR Koperindo Jaya, Ini Alasannya

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai dengan...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru