STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Memasuki tahun 2026, pelaku usaha perlu mencermati pergeseran energi yang memengaruhi peta bisnis global. Founder Feng Shui Consulting Indonesia, Yulius Fang, membagikan pandangannya dalam acara Market Outlook 2026. Perhelatan bertajuk “Strategi Kuda Api: Siap Melaju, Menerjang Peluang Baru” ini digelar oleh BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Yulius memaparkan kondisi ekonomi berdasarkan penanggalan Tiongkok yang menyebut 2026 sebagai tahun Bing Wu atau Kuda Api. Tahun ini resmi dimulai pada 17 Februari 2026 hingga 5 Februari 2027. Karakteristik api yang sangat dominan diprediksi akan membawa dinamika besar bagi berbagai sektor industri.
Menurut Yulius, prinsip utama Feng Shui adalah menjaga keseimbangan antar elemen. Tahun Kuda Api memiliki elemen api yang sangat kuat. Hal ini menciptakan kondisi “api membakar logam”. Akibatnya, bisnis yang bernaung di bawah elemen logam akan menghadapi tantangan berat sepanjang tahun.
Sektor elemen logam mencakup industri otomotif, elektronik, komputer, mesin, serta alat berat. Bidang lain seperti finance, fintech, valas, perhiasan, pertambangan mineral, hingga farmasi juga masuk dalam kategori ini. Termasuk pula industri telekomunikasi, musik, hukum, kosmetik, dan salon.
Yulius menyoroti tantangan nyata pada industri kendaraan listrik atau EV. Masalah pada mineral langka seperti mikroprosesor dan memori akan memicu inflasi barang elektronik. Kondisi ini kemungkinan membuat konsumen menunda pembelian teknologi canggih.
Indonesia sebagai eksportir mineral diperkirakan merasakan dampaknya dalam enam bulan kedua tahun 2026. Ekspor pertambangan mineral ke Tiongkok atau Amerika Serikat diprediksi melambat. Yulius menyarankan pelaku usaha mulai mencari target pasar baru di negara lain untuk menjaga stabilitas.
“Fungshui selalu berbicara tentang keseimbangan,” ujar Yulius Fang.
Sementara itu, elemen api sendiri menaungi bisnis restoran, kuliner, energi, bahan bakar, kimia, serta teknologi kecerdasan buatan (AI). Meskipun AI tengah menjadi tren besar, Yulius menilai pendapatannya mungkin sedikit tertekan tahun ini. Namun, ia menepis isu gelembung ekonomi (bubble) pada sektor AI dalam waktu dekat.
Sektor AI diprediksi tetap berjaya hingga tahun 2043 mendatang. Penurunan keuntungan saat ini dianggap sebagai fase penyesuaian pasar. Ia juga menyebutkan bisnis gim, spekulasi, pendidikan, hiburan, penerbangan, hingga asuransi modern masuk dalam kelompok elemen api ini.
“Terlalu awal ngomong bubble AI,” tegas Yulius.
Kabar baik datang bagi pelaku usaha di elemen air dan kayu. Kedua elemen ini diprediksi menjadi primadona dan mendulang keuntungan besar. Elemen air meliputi sektor minuman, kafe, pariwisata, hotel, transportasi, perkapalan, hingga perikanan. Bidang teknologi informasi seperti perangkat lunak (software), media daring, serta bisnis jasa juga diprediksi moncer.
Sektor elemen kayu pun tidak kalah potensial. Industri tekstil, fesyen, kesehatan, perhutanan, perkebunan, hingga furnitur akan bergerak positif. Selain itu, jasa pengiriman atau logistik, pergudangan, obat tradisional, serta bisnis eceran diprediksi terus bertumbuh.
“Sawit masih akan berjaya di tahun ini,” kata Yulius optimis.
Terakhir, elemen tanah berada pada posisi moderat atau cukup stabil. Elemen ini menaungi sektor properti, infrastruktur, konstruksi, perbankan, dan asuransi tradisional. Bidang pertanian, sembako, peternakan, hingga koperasi juga menjadi bagian dari kelompok elemen tanah yang perlu dikelola dengan strategi tepat.
Yulius mengingatkan pentingnya ketahanan dan strategi matang untuk menghadapi gejolak di tahun Kuda Api. Adaptasi terhadap perubahan pasar menjadi kunci utama bagi para pengusaha.
“Api kuat akan membakar logam,” jelasnya singkat mengenai tantangan utama tahun ini.
