STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham di kawasan Eropa ditutup melemah pada perdagangan Rabu (18/3/2026). Pergerakan pasar masih dibayangi oleh dampak konflik perang Iran. Di saat yang sama, para investor mulai mengalihkan perhatian pada kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS).
Mengutip CNBC International, indeks pan-Eropa Stoxx 600 mengakhiri sesi dengan penurunan 0,7%. Mayoritas sektor dan bursa utama di wilayah tersebut berakhir di zona negatif. Kondisi ini membalikkan penguatan yang sempat terjadi pada awal sesi perdagangan.
Indeks FTSE 100 di Inggris merosot 0,94% ke level 10.305,29. Indeks DAX Jerman juga terkoreksi 0,96% menjadi 23.502,25. Sementara itu, indeks CAC 40 Prancis turun tipis 0,06% ke posisi 7.969,88. Indeks FTSE MIB Italia turut melemah 0,33% ke level 44.741,34.
Investor kini tengah menanti pengumuman suku bunga The Fed. Pasar memperkirakan bank sentral AS tersebut akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,5% hingga 3,75%. Pelaku pasar juga mewaspadai arahan Ketua The Fed Jerome Powell terkait dampak harga minyak terhadap kebijakan moneter ke depan.
Presiden Donald Trump pekan ini mengkritik sekutu NATO karena menolak membantu pengamanan di Selat Hormuz. Melalui unggahan di media sosial Truth Social, ia menegaskan posisi Amerika Serikat dalam situasi tersebut. Trump menulis AS tidak membutuhkan bantuan.
Di sektor korporasi, saham perusahaan asal Inggris, Diploma, melonjak 17,8%. Perusahaan distributor teknis ini mencatatkan rekor tertinggi baru dalam 52 minggu terakhir. Lonjakan terjadi setelah perusahaan menaikkan target pertumbuhan pendapatan organik menjadi 9%.
Saham perusahaan IT Softcat juga berakhir menguat 9,2%. Perusahaan melaporkan kinerja luar biasa pada paruh pertama tahun fiskal mereka. Manajemen Softcat menghubungkan pencapaian laba operasi tersebut dengan “eksekusi yang sukses dan kemajuan strategis.”
Harga minyak dunia terpantau merangkak naik pada perdagangan Rabu. Minyak mentah Brent melonjak 4,8% ke level 108,41 USD per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,8% menjadi 97,97 USD per barel.
Tekanan pada pasar saham juga dipicu oleh data inflasi grosir AS yang melonjak 0,7% pada Februari. Angka ini melampaui perkiraan para analis sebesar 0,3%. Hal tersebut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Inggris (Gilt) dan obligasi Jerman (Bund).
Investor kini bersiap menyambut rangkaian keputusan kebijakan moneter dari berbagai bank sentral dunia pada Kamis besok. Bank Sentral Eropa (ECB), Bank of England, Riksbank, dan Swiss National Bank dijadwalkan akan mengumumkan arah kebijakan terbaru mereka.
