STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia menguat sekitar 1% pada akhir perdagangan Senin (16/2/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (17/2/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh optimisme investor menjelang perundingan nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pelaku pasar menimbang potensi deeskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 90 sen atau 1,33%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 68,65 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 86 sen atau 1,37%. Minyak WTI berada di posisi 63,75 USD per barel. Kontrak WTI tidak memiliki harga penyelesaian resmi karena pasar Amerika Serikat tutup untuk libur Hari Presiden.
Pejabat AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Jenewa pada Selasa mendatang. Pertemuan ini bertujuan meredakan ketegangan terkait program nuklir Teheran. Oman bertindak sebagai mediator dalam komunikasi kedua negara tersebut.
Seorang diplomat Iran melaporkan negaranya mengejar kesepakatan nuklir yang memberikan manfaat ekonomi bagi kedua belah pihak. Agenda pembicaraan mencakup investasi energi, pertambangan, hingga pembelian pesawat terbang.
Namun, AS tetap bersiap untuk kemungkinan kampanye militer jika pembicaraan tersebut gagal. Pasukan Pengawal Revolusi Iran juga telah memperingatkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS jika wilayah Iran diserang.
Analisis dari SEB memberikan gambaran mengenai pengaruh tensi ini terhadap harga pasar. Mereka menilai pergerakan Brent akan sangat bergantung pada hasil negosiasi tersebut.
“Peningkatan ketegangan Iran dapat mendorong Brent ke 80 USD per barel. Ketegangan yang memudar akan menjatuhkannya kembali ke 60 USD per barel,” tulis para analis SEB dalam sebuah catatan.
Sentimen penguatan harga minyak juga mendapat dukungan dari kuatnya permintaan Tiongkok. Impor minyak Rusia oleh Tiongkok diperkirakan mencapai rekor baru pada Februari. Hal ini terjadi setelah India mengurangi pembelian akibat tekanan dari AS.
Giovanni Staunovo, seorang analis minyak di UBS, memberikan penjelasannya terkait kondisi pasar saat ini. Ia menyoroti beberapa faktor pendukung di luar isu geopolitik.
“Harga minyak juga didukung oleh berlanjutnya impor minyak mentah yang kuat dari Tiongkok dan oleh beberapa gangguan dalam ekspor minyak,” ujar Staunovo.
Di sisi lain, pergerakan harga minyak sedikit tertahan oleh kabar dari OPEC+. Kelompok produsen minyak ini dikabarkan cenderung melanjutkan peningkatan produksi mulai April mendatang. Keputusan tersebut diprediksi akan diambil pada pertemuan 1 Maret nanti.
Volume perdagangan pada sesi Senin terpantau tipis. Minimnya aktivitas pasar terjadi karena peringatan hari libur nasional di Amerika Serikat. Investor kini menantikan hasil perundingan di Jenewa sebagai penggerak pasar selanjutnya.
