Stockwatch.id Versi penuh
Economic

Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Triwulan II 2026 Diprakirakan Tetap Tumbuh Kuat, Ini Penopangnya

Oleh Daiz La Ode 04 Aug 2026 12:36 4 menit baca

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan perekonomian Indonesia pada triwulan II 2026 diprakirakan tetap tumbuh kuat meski menghadapi tantangan ekonomi global. Daya beli masyarakat yang tetap terjaga, investasi yang meningkat, serta sinergi kebijakan pemerintah dan otoritas menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Usai Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/8/2026), Purbaya mengatakan konsumsi rumah tangga masih menjadi motor pertumbuhan. Kondisi itu didukung APBN yang menjalankan fungsi shock absorber melalui program perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja, serta stimulus selama masa libur sekolah.

Selain konsumsi rumah tangga, investasi diprakirakan tetap tumbuh kuat. Pertumbuhan tersebut ditopang proyek hilirisasi bernilai tambah tinggi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pemerintah. Sementara itu, konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh positif seiring percepatan belanja program prioritas, pembayaran gaji ke-13 Aparatur Sipil Negara (ASN), serta penyaluran bantuan sosial.

Koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) juga terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas perekonomian dan sektor perbankan. Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan uang primer (M0) yang tetap tinggi sepanjang triwulan II 2026 dan masih tumbuh 15,4% secara tahunan (yoy) pada pekan ketiga Juli 2026. Fungsi intermediasi perbankan juga terus membaik.

Di sektor riil, aktivitas manufaktur yang sempat melambat pada akhir triwulan II kembali berekspansi pada Juli 2026. Hal itu terlihat dari PMI Manufaktur yang berada di level 50,2, menandakan optimisme pelaku usaha mulai pulih.

Purbaya menegaskan sinergi kebijakan antaranggota KSSK akan terus diperkuat untuk menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan ekonomi.

"Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2026 diprakirakan berada dalam kisaran 5,6-6,0% yoy, ditopang berbagai sinergi kebijakan Pemerintah dan lembaga anggota KSSK lainnya untuk menjaga berlanjutnya momentum pertumbuhan," ujar Purbaya.

Di sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026 masih mencatat surplus USD3,58 miliar, meski pada Juni terjadi defisit USD0,45 miliar. Aliran investasi portofolio asing pada triwulan II 2026 membukukan net inflows USD8,5 miliar, terutama ditopang investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Nilai tukar rupiah menguat ke Rp17.994 per dolar AS pada 31 Juli 2026 setelah sempat melemah akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate (FFR). Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tetap tinggi di level USD145,6 miliar, setara pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Sementara itu, inflasi Juli 2026 tetap berada dalam sasaran. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat 2,88% yoy, turun dibandingkan Juni yang sebesar 3,34% yoy. Inflasi inti berada di level 2,76% yoy, sedangkan inflasi administered prices mencapai 3,58% yoy akibat penyesuaian harga avtur. Di sisi lain, inflasi volatile food turun menjadi 2,52% yoy, didorong deflasi bawang merah, cabai rawit, dan cabai merah.

Pemerintah memperkirakan inflasi sepanjang 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% melalui sinergi kebijakan moneter dan pengendalian harga oleh pemerintah.

Di pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun naik menjadi 7,14% pada akhir triwulan II 2026. Meski demikian, investor nonresiden masih mencatat net buy Rp32,09 triliun selama triwulan II 2026. Hingga 30 Juli 2026, investor asing masih membukukan net buy Rp13,35 triliun secara tahun berjalan (ytd).

Dari sisi fiskal, realisasi Pendapatan Negara hingga akhir triwulan II 2026 mencapai Rp1.459,4 triliun, tumbuh 21,4% yoy. Penerimaan perpajakan mencapai Rp1.035,7 triliun atau naik 24,6% yoy, sedangkan PNBP mencapai Rp271,0 triliun, tumbuh 21,6% yoy.

Realisasi Belanja Negara mencapai Rp1.656,0 triliun, meningkat 17,8% yoy. Belanja tersebut antara lain digunakan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, pembayaran THR, gaji ke-13, subsidi, dan kompensasi BBM serta listrik.

Sementara itu, realisasi Pembiayaan Anggaran mencapai Rp452,0 triliun, tumbuh 59,4% yoy, didukung pengelolaan pembiayaan utang yang prudent dan terukur.

Pemerintah juga terus mengoptimalkan APBN sebagai shock absorber, agent of development, dan protecting the poor. Hingga akhir triwulan II 2026, subsidi mencapai Rp116,0 triliun, kompensasi Rp116,9 triliun, Program MBG terealisasi Rp101,1 triliun untuk 63,13 juta penerima manfaat, serta Program Sekolah Rakyat Rp13,1 triliun untuk 104 sekolah permanen. Program perlindungan sosial juga terus berjalan melalui PKH sebesar Rp14,5 triliun, Kartu Sembako Rp19,7 triliun, dan Program Indonesia Pintar (PIP) Rp8,8 triliun. Pemerintah juga melanjutkan berbagai stimulus, termasuk insentif perpajakan bagi penulis nasional, diskon transportasi, serta program magang dan vokasi.


Topik terkait
Purbaya Yudhi Sadewa Menkeu Purbaya pertumbuhan ekonomi Indonesia ekonomi Indonesia triwulan II 2026 KSSK APBN investasi daya beli masyarakat.