STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan pasar saham Indonesia tetap bergairah sepanjang tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditargetkan mampu menyentuh level 10.500. Keyakinan ini muncul seiring ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
IHSG menunjukkan tren positif sejak awal tahun 2026. Momentum penguatan dari tahun sebelumnya masih terus berlanjut. Pada Rabu (7/1), indeks bahkan sukses mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 8.944,8.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, memantau fenomena menarik pada pergerakan indeks tahun ini. Kenaikan harga saham tetap terjadi meskipun data ekonomi nasional sedang menghadapi tantangan berat.
“Menariknya, penguatan IHSG di awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang menggembirakan, mulai dari inflasi Desember yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, hingga defisit fiskal yang melebar akibat penerimaan pemerintah yang masih lemah,” ujar Rully Arya Wisnubroto di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Pasar keuangan domestik juga masih dibayangi tekanan eksternal yang kuat. Indeks Dollar AS (DXY) terus menguat akibat sentimen risk-off global. Kondisi ini memicu pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Rupiah tercatat pertama kalinya ditutup di atas level Rp16.800 per Dollar AS sejak April 2025. Situasi ini membuat Bank Indonesia (BI) memiliki ruang yang sangat sempit. Peluang penurunan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20–21 Januari 2026 dinilai sangat terbatas.
“Dalam jangka pendek, arah kebijakan moneter akan sangat berhati-hati. Namun, pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan, terutama jika kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan,” jelas Rully.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan meningkat menjadi 5,3%. Angka ini lebih tinggi dari capaian sekitar 5,1% pada tahun 2025. Efektivitas belanja produktif pemerintah menjadi kunci utama menjaga momentum pertumbuhan tersebut.
“Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung target IHSG 10.500. Jika likuiditas terjaga dan stimulus fiskal berjalan efektif, pasar akan memiliki fondasi yang lebih kuat,” tambah Rully.
Kepercayaan investor diperkirakan semakin kuat jika ada kepastian arah ekonomi. Dari sisi sektor usaha, saham-saham komoditas dan pertambangan menjadi motor penggerak indeks. Beberapa di antaranya adalah AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS.
Potensi kenaikan saham tersebut didukung oleh penguatan harga komoditas dunia, terutama emas. Ketidakpastian geopolitik global masih menjadi pemicu utama naiknya harga logam mulia. Selain komoditas, sektor telekomunikasi juga diprediksi menjadi pendorong IHSG.
Hal ini didukung oleh pesatnya pertumbuhan ekonomi digital nasional. Investasi jaringan yang berkelanjutan menjadi kebutuhan vital bagi masyarakat. Dengan berbagai faktor tersebut, Mirae Asset tetap bullish terhadap kinerja pasar saham Indonesia selama 2026.
