Rabu, Januari 21, 2026
25.6 C
Jakarta

Pasokan Kazakhstan Terganggu, Harga Minyak Dunia Melaju ke 64,92 USD

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup menguat pada perdagangan Selasa (20/1/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (21/1/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh penghentian sementara produksi di ladang minyak Kazakhstan. Sentimen positif juga datang dari data ekonomi global yang memicu ekspektasi kenaikan permintaan bahan bakar.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik 98 sen atau 1,53%, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Februari juga mencatat kenaikan. Harganya melonjak 90 sen atau 1,51% menjadi 60,34 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.

Tengizchevroil menjadi sorotan utama pasar setelah menghentikan operasional di ladang minyak Tengiz dan Korolev. Perusahaan yang dipimpin oleh Chevron ini melaporkan adanya masalah pada sistem distribusi tenaga listrik.

Ladang minyak Tengiz merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Gangguan ini diperkirakan memangkas ekspor minyak mentah melalui Caspian Pipeline Consortium selama tujuh hingga sepuluh hari ke depan.

“Tengiz termasuk di antara ladang terbesar di dunia sehingga pemadaman tersebut tentu mengganggu aliran minyak mentah,” ujar Ajay Parmar, Direktur Energi dan Kilang di ICIS.

Ajay Parmar menilai gangguan pasokan tersebut kemungkinan besar bersifat sementara. Ia memprediksi harga berpotensi terkoreksi kembali.

“Namun gangguan ini tampaknya bersifat sementara. Jadi jika retorika tarif terus berlanjut, kami memperkirakan harga akan turun kembali,” tambahnya.

Selain faktor pasokan, pasar minyak mendapat angin segar dari data ekonomi China. Produk domestik bruto (PDB) kuartal keempat negeri Tirai Bambu tersebut melampaui ekspektasi pelaku pasar.

Ekonomi China tercatat tumbuh sebesar 5% pada tahun lalu. Output kilang minyak negara tersebut juga naik 4,1% secara tahunan pada 2025. Produksi minyak mentah domestik China pun tumbuh 1,5%.

“Ketangguhan pengimpor minyak utama dunia ini memberikan dorongan bagi sentimen permintaan,” kata Tony Sycamore, analis pasar di IG.

Sentimen pasar semakin kuat setelah Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi naik estimasi pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Hal ini dibarengi dengan penguatan harga solar di pasar internasional.

Pelemahan nilai tukar mata uang USD turut memberikan dukungan bagi harga minyak. Mata uang USD yang lebih lemah membuat pembelian komoditas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Di sisi lain, pelaku pasar tetap waspada terhadap ancaman tarif Presiden AS Donald Trump. Ia mengancam akan mengenakan bea masuk tambahan sebesar 10% bagi sejumlah negara Eropa.

Negara yang menjadi sasaran antara lain Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Swedia, Belanda, Inggris, dan Norwegia. Tarif ini bisa melonjak hingga 25% pada 1 Juni jika kesepakatan terkait akuisisi Greenland tidak tercapai.

Ancaman tarif ini dinilai dapat menghambat pertumbuhan ekonomi global. Jika ekonomi melambat, pertumbuhan permintaan minyak dunia secara otomatis akan ikut tertekan.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyatakan keberatannya terhadap rencana tarif tersebut. Ia menegaskan pihaknya tengah menyiapkan strategi keamanan di kawasan tersebut.

“Cabang eksekutif blok tersebut sedang mengerjakan paket untuk mendukung keamanan Arktik dan tarif tersebut adalah sebuah kesalahan,” tegas Ursula von der Leyen. (daiz)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Tensi Geopolitik Memanas, Harga Emas Dunia Tembus Rekor Baru 4.700 USD

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencetak sejarah...

Tensi AS-Iran Mereda, Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke Level 64,19 USD

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak menguat tipis...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru