Perang Iran Memanas, Bursa Saham Eropa Ditutup Variatif di Tengah Lonjakan Harga Minyak

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup variatif pada akhir perdagangan Kamis (2/4/2026) waktu setempat. Pergerakan pasar tertekan oleh kekhawatiran eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Investor cenderung mengambil posisi defensif menjelang libur panjang akhir pekan Paskah.

Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir melemah 0,18% ke posisi 596,63. Sebagian besar bursa utama di kawasan tersebut berada di zona merah. Indeks CAC 40 Perancis turun 0,24% ke level 7.962,39. FTSE MIB Italia terkoreksi 0,20% ke posisi 45.624,94.

Indeks FTSE 100 Inggris justru menguat 0,69% ke level 10.436,29. Performa positif ini didorong oleh sektor minyak, gas, dan tembakau. Sementara itu, DAX Jerman menjadi yang paling terpuruk dengan pelemahan 0,56% ke posisi 23.168,08. Adapun IBEX 35 Spanyol turun tipis 0,14% ke level 17.555,90.

Pasar global kembali bergejolak setelah Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan terbaru mengenai konflik Iran. Trump memperkirakan perang akan berlangsung dua hingga tiga minggu lagi. Ia menegaskan pasukan AS akan memukul Iran dengan sangat keras selama periode tersebut.

Danni Hewson, Head of Financial Analysis di AJ Bell, memberikan analisanya terkait situasi ini. Ia menilai komentar Trump memicu ketidakpastian besar di pasar modal.

“Akhir pekan Paskah mungkin sudah dekat bagi para investor, tetapi hanya ada sedikit kegembiraan yang ditemukan karena pasar tetap berada di bawah tekanan setelah komentar Donald Trump yang tidak jelas tentang Iran,” ujar Hewson dalam keterangannya.

Hewson menambahkan banyak investor memilih untuk mengamankan aset mereka. Prospek eskalasi konflik selama akhir pekan menjadi alasan utama aksi jual di beberapa sektor.

“Prospek eskalasi lebih lanjut selama akhir pekan telah membuat banyak investor terburu-buru mengambil posisi defensif,” tambahnya.

Di London, indeks FTSE 100 mampu bertahan berkat minat investor pada sektor kebutuhan pokok. Saham-saham perusahaan besar di bidang utilitas dan energi menjadi penopang utama indeks.

“Di London, fokus tertuju pada hal-hal yang tidak dapat ditinggalkan orang bahkan ketika biaya hidup mereka berada di bawah tekanan. Perusahaan utilitas, tembakau, dan perusahaan minyak besar semuanya membantu indeks blue-chip berakhir secara garis besar datar,” tegas Hewson.

Sentimen pasar juga terbebani oleh lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent melompat lebih dari 6% hingga melampaui level USD 107 per barel. Sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu, harga minyak Brent telah melonjak lebih dari 60% sepanjang Maret.

Selain isu geopolitik, investor memantau rencana tarif baru dari pemerintahan Trump. Kabarnya, AS sedang menyiapkan tarif bagi perusahaan farmasi yang tidak menjamin harga obat murah. Berita ini pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg berdasarkan sumber anonim.

Di sisi korporasi, raksasa minyak Shell dilaporkan tengah bernegosiasi dengan pemerintah Venezuela. Shell berencana mengembangkan empat area ladang gas alam lepas pantai yang besar di negara tersebut.

Sementara itu, CEO Ryanair Michael O’Leary mengeluarkan peringatan mengenai pasokan energi. Ia menyebut Inggris merupakan pasar yang paling rentan terhadap kekurangan bahan bakar jet. Hal ini terjadi akibat ketergantungan Inggris pada pasokan dari Kuwait di tengah berkecamuknya perang Iran.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Ancaman Trump Bikin Harga Minyak Mendidih, Dow Jones Tergelincir!

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Trump Janji Pukul Iran “Sangat Keras”, Bursa Saham Asia Langsung Berguguran

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik ditutup...

Ada Sinyal Damai AS-Iran, Wall Street Kompak Menghijau di Awal April

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru