STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia turun tipis sekitar 0,32% pada akhir perdagangan Kamis (26/2/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (27/2/2026) WIB. Penurunan ini terjadi usai sesi perdagangan yang sangat bergejolak. Investor merespons perkembangan terbaru dari negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent turun 0,10 USD atau 0,14% menjadi 70,75 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh 0,21 USD atau 0,32%. Minyak WTI berakhir pada posisi 65,21 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Perwakilan AS dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Jenewa pada hari Kamis. Pertemuan ini membahas perselisihan panjang terkait program nuklir Teheran. Kedua negara berusaha mencegah pecahnya konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah memerintahkan penambahan kekuatan militer di wilayah tersebut. Langkah ini sempat memicu kepanikan pasar atas potensi gangguan pasokan minyak bumi jika permusuhan benar-benar pecah.
Dinamika perundingan ini langsung memicu fluktuasi tajam pada harga minyak berjangka. Harga minyak bahkan sempat melompat lebih dari 1 USD per barel pada pertengahan sesi.
Kenaikan harga sesaat tersebut dipicu oleh laporan media mengenai kebuntuan negosiasi. AS ngotot meminta Iran menghentikan pengayaan uranium hingga titik nol. Washington juga menuntut penyerahan semua uranium yang diperkaya 60% kepada mereka.
Meski begitu, harga minyak kembali berbalik arah dan melemah menjelang penutupan. Kedua negara akhirnya sepakat untuk memperpanjang pembicaraan hingga minggu depan.
Janiv Shah, Vice President of Oil Analytics di lembaga konsultan Rystad Energy, menyoroti kesepakatan perpanjangan waktu tersebut. Langkah ini dinilai berhasil menekan potensi serangan militer dalam waktu dekat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, ikut bersuara terkait pertemuan hari Kamis. Ia menyebut diskusi tersebut sebagai pertukaran paling serius dengan pihak AS sejauh ini.
Araqchi memaparkan secara gamblang tuntutan pencabutan sanksi ekonomi terhadap negerinya. Ia juga merinci proses keringanan hukuman tersebut. Araqchi memastikan perundingan akan terus berlanjut pekan depan.
Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, sebelumnya juga merilis pernyataan positif. Ia melihat sebuah kemajuan signifikan telah tercapai dalam negosiasi kali ini.
Shohruh Zukhritdinov, seorang pedagang minyak yang berbasis di Dubai, memberikan analisanya. Ia menyoroti fenomena aksi jual di bursa komoditas energi ini.
“Aksi jual minyak mentah hanyalah pasar yang menghilangkan premi risiko geopolitik,” kata Zukhritdinov.
Menurutnya, pelaku pasar kini tidak lagi panik terhadap ancaman sanksi yang lebih ketat. Mereka juga sudah menepis isu penutupan jalur distribusi melalui Selat Hormuz.
“Pedagang menghilangkan ketakutan akan sanksi yang lebih ketat atau gangguan melalui Hormuz. Namun secara fundamental tidak ada yang berubah – pasokan masih panjang, OPEC+ mungkin menambah barel pada bulan April, dan Iran mempercepat ekspor di awal. Jadi ini didorong oleh sentimen, bukan struktural,” tegas Zukhritdinov.
