STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui mekanisme penawaran umum perdana atau intial public offering (IPO) pada hari ini (10/3/2023).
NSSS menjadi emiten ke-27 tahun 2023 atau perusahaan tercatat ke 852 di BEI.
Usai tercatat di BEI, manajemen NSSS siap tancap gas mengejar target kinerja. Tahun ini, Perseroan membidik pertumbuhan laba bersih sebesar 66,7% menjadi Rp100 miliar. Adapun sepanjang tahun lalu, Perseroan berhasil mencetak laba sebesar Rp60 miliar.
Menurut Teguh Patriawan, Presiden Direktur NSSS, target perolehan laba Perseroan antara lain ditopang oleh kenaikan pendapatan. Tahun ini, lanjut dia, pendapatan NSSS diproyeksikan mencapai Rp1,4 triliun, naik sekitar 17% dibandingkan Rp1,2 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perseroan juga berencana akan menambah kapasitas 3.000 hektare (ha) lahan baru pada 2023. Itu berlokasi di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah.
“Kami harapkan dari kedua kabupaten itu kira- kira sekitar dua ribu hektare dari Kabupaten Kapuas dan seribu hektare dari Kabupaten Gunung Mas,” jelas Teguh.
Teguh menambahkan, tahun ini, Perseroan telah mengalokasikan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp200 miliar. Rencananya, capex tersebut akan digunakan untuk menambah pabrik dan membuka lahan baru. Adapun sumber pendanaan capex, kata Teguh, berasal dari kas internal dan sumber eksternal seperti perbankan dan dana hasil IPO. “Sebesar 30- 40% capex akan diambil dari kas internal,’ papar Teguh.
Pada saat pembukaan perdagangan, saham NASS menguat Rp11 (9%), menjadi Rp138 per saham dari harga penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) sebesar Rp127 per saham. Adapun volume perdagangan saham NASS di pasar reguler saat itu mencapai 88,65 juta unit senilai Rp11,67 miliar. Sedangkan frekuensi perdagangan saham sebanyak 3.003 kali.
Dalam aksi korporasi ini, Perseroan melepas sebanyak 3,568 miliar saham kepada publik. Jumlah saham yang ditawarkan tersebut mencapai 15% dari modal disetor NSSS setelah penawaran umum perdana saham.
Perseroan merampungkan penawaran awal (book building) pada 17-22 Februari 2023. Setelah memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 28 Februari 2023, NSS lalu melanjutkan dengan masa penawaran umum perdana saham pada tanggal 2-8 Maret 2023.
Teguh menjelaskan, nilai nominal saham Perseroan sebesar Rp50 per saham. “Harga perdana saham NSS ini sebesar Rp127 per lembar. Itu berarti dana yang kami himpun melalui IPO saham ini sebesar Rp453,165 miliar,” katanya.
Teguh mengemukakan, selama masa penawaran umum, berdasarkan sistem e-IPO, Perseroan mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) sekitar 13,9 kali. Hal ini menunjukan tingginya animo investor terhadap IPO saham NSSS.
Seiring dengan penawaran umum perdana saham, NSSS juga menerbitkan sebanyak 1,784 miliar waran seri I, atau sebanyak 8,82% dari total saham ditempatkan dan disetor penuh pada saat pernyataan pendaftaran dalam rangka IPO ini disampaikan.
Setiap pemegang dua saham baru berhak memperoleh satu waran seri I, dimana setiap pemegang satu waran seri I berhak membeli satu saham baru dengan harga pelaksanaan sebesar Rp190 per saham. “Jika seluruhnya dilaksanakan oleh pemegang waran seri I, dana yang akan diperoleh NSSS mencapai Rp338,982 miliar,” ungkap Teguh.
PT Mitra Agro Dharma Unggul merupakan pemegang saham mayoritas NSS sebelum IPO dengan persentase kepemilikan sebesar 59,11%. Kemudian Ir. Teguh Patriawan memiliki 17,12% saham, PT Nusantara Makmur Lestari 10,75%, Yantoni Kerisna sebesar 6,14%, Thomas Tampi sebesar 5,00%, dan PT Bina Palangka Makmur sebesar 1,88%.
Menurut Teguh, dana hasil IPO rencananya akan digunakan untuk membiayai pembangunan fasilitas produksi, pembiayaan penanaman baru, dan modal kerja entitas anak. Dana tersebut akan disalurkan melalui mekanisme penyertaan modal.
PT Borneo Sawit Perdana (BSP) menjadi salah satu anak usaha yang akan menerima suntikan modal dengan dana hasil IPO. Sekitar 33% akan digunakan untuk belanja modal dalam membangun pabrik kelapa sawit seluas 40 hektare (ha) berkapasitas 60 ton tandan buah segar (TBS) per jam dan fasilitas pendukungnya.
Sekitar 9,4% akan digunakan untuk pemenuhan modal kerja BSP dalam pembelian pupuk dan agrochemical atau bahan kimia pertanian.
PT Bina Sarana Sawit Utama (BSSU) juga akan mendapat suntikan dana hasil IPO, sekitar 47% akan digunakan untuk belanja modal dalam rangka penanaman baru perkebunan sawit. Dari jumlah tersebut, 15% di antaranya akan dipakai untuk pembebasan lahan seluas 6.831 ha agar berstatus hak guna usaha (HGU). Adapun sisa anggaran akan dipakai untuk proses pembibitan hingga pemupukan selama periode belum menghasilkan.
Kemudian, sekitar 10,6% dana hasil IPO akan disalurkan kepada PT Prasetya Mitra Muda untuk pemenuhan modal kerja PMM dalam pembelian pupuk dan agrokimia atau bahan kimia pertanian. “Dana yang diperoleh Perseroan dari hasil pelaksanaan waran seri I seluruhnya akan digunakan untuk belanja modal ke entitas anak dengan mekanisme penyertaan modal,” tandasnya.
Teguh menambahkan, bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek dalam IPO NSSS adalah PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, PT Sucor Sekuritas, dan PT Samuel Sekuritas Indonesia.
Dengan kapitalisasi pasar NSS sekitar Rp2,9 hingga Rp4,5 triliun, Teguh optimis, bisnis CPO kedepan masih memiliki potensi besar di Indonesia.
