STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali membuka akses perdagangan bagi enam saham emiten yang sebelumnya terkena sanksi penghentian sementara (suspensi). Pencabutan suspensi ini efektif berlaku mulai Sesi I perdagangan hari Selasa, 30 Desember 2025. Saham-saham tersebut kini dapat diperdagangkan kembali baik di Pasar Reguler maupun Pasar Tunai.
P.H. Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Danny Yuskar Wibowo, mengumumkan keputusan ini melalui keterbukaan informasi, Senin (29/12/2025). Keenam saham yang dibuka gemboknya adalah PT Agro Yasa Lestari Tbk (AYLS), PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK), PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX), PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), dan PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE).
Sebelumnya, BEI terpaksa menghentikan perdagangan saham-saham ini karena terjadi lonjakan harga kumulatif yang signifikan. Langkah cooling down tersebut diambil untuk melindungi investor dan memberi waktu bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan keputusan investasinya dengan matang.
Saham AYLS telah disuspensi sejak 24 Oktober 2025. Sebelum suspensi, saham ini melonjak tajam. Pada 23 Oktober 2025, AYLS ditutup menguat 5,93% ke level Rp250 dengan volume transaksi mencapai 110,1 juta saham.
Saham ROCK disuspensi mulai 8 Desember 2025. Sehari sebelumnya, harga saham ini melesat 24,91% ke posisi Rp1.655. Angka ini merupakan level tertinggi tahun berjalan, jauh meninggalkan harga terendah Rp228 pada Juni 2025.
Sementara itu, saham IRSX yang disuspensi sejak 11 Desember 2025, terakhir ditutup di level Rp690 pada 10 Desember 2025. Saham ini mencatatkan kenaikan 18,97% dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp4,27 triliun.
Untuk saham TIRT, suspensi diberlakukan mulai 12 Desember 2025. Pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya, TIRT naik 9,43% menjadi Rp116 per saham.
Saham BNBR juga mengalami nasib serupa dan disuspensi pada 16 Desember 2025. Sebelum digembok, harga saham BNBR menguat 9,43% ke level Rp116 pada 15 Desember 2025. Volume transaksinya sangat besar, mencapai 615 juta saham.
Terakhir, saham CARE disuspensi mulai 18 Desember 2025. Pada perdagangan terakhir sebelum suspensi, saham ini ditutup naik 4,14% ke level Rp755. Saham ini sempat menyentuh harga tertinggi Rp900 pada sesi perdagangan tersebut.
Dengan pencabutan suspensi ini, BEI memberi kesempatan kembali kepada investor untuk memperdagangkan saham-saham tersebut secara wajar. Bursa mengimbau pelaku pasar tetap mencermati keterbukaan informasi dan risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
