STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pemerintah dan pemangku kepentingan memperingati satu tahun beroperasinya kegiatan usaha bullion atau Bank Emas di Indonesia. Peringatan ini berlangsung di Jakarta pada Jumat (6/3/2026). Langkah ini menjadi tonggak penting penguatan ekosistem emas nasional.
Presiden Prabowo Subianto pertama kali meluncurkan Bank Emas pada 26 Februari 2025. Program ini bertujuan mengintegrasikan pengelolaan emas nasional dari hulu ke hilir.
Kesadaran masyarakat berinvestasi emas kini makin tinggi. Literasi lindung nilai juga meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ketegangan geopolitik Iran-AS saat ini turut mendongkrak harga emas.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyoroti pentingnya optimalisasi ekosistem ini.
“Kegiatan usaha bullion khususnya emas yang telah dirintis perlu dimanfaatkan secara optimal agar dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendorong perekonomian nasional,” ujar Airlangga, dalam siaran pers dikutip Sabtu (7/3/2026).
Kondisi perekonomian Indonesia sendiri terus menunjukkan kinerja solid. Pertumbuhan ekonomi kuartal IV tahun 2025 mencapai 5,39%. Sepanjang tahun 2025, ekonomi sukses tumbuh 5,11%.
Angka pertumbuhan ini lebih tinggi dari mayoritas negara G20. Pemerintah terus memberikan stimulus fiskal demi menjaga daya beli. Belanja pemerintah diproyeksi menembus Rp809 triliun pada awal 2026.
Pemerintah optimistis mengejar target pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sekitar 5,5%. Target keseluruhan tahun 2026 dipatok pada kisaran 5,4% hingga 5,6%.
Penguatan ekosistem bullion diharapkan mendukung transformasi ekonomi menuju target pertumbuhan 8% pada 2029. Kehadiran Bank Emas mendorong hilirisasi emas dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Kinerja lembaga jasa keuangan bullion ikut mencatat hasil sangat positif. PT Pegadaian sukses menambah jumlah nasabah dari 3,2 juta pada Februari 2025 menjadi 5,6 juta pada Februari 2026.
Tabungan emas masyarakat di Pegadaian melonjak drastis. Jumlahnya naik dari 10,5 ton menjadi 19,25 ton pada periode yang sama.
Per Februari 2026, kelolaan lini bisnis emas Pegadaian menembus 147,8 ton. Angka ini mencakup captive gadai sebesar 94 ton. Total kelolaan kegiatan usaha bullion Pegadaian tercatat mencapai 40,59 ton atau sekitar Rp102 triliun.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga menorehkan pertumbuhan pesat. Total kelolaan emas BSI naik menjadi 22,5 ton pada Februari 2026. Sebelumnya, angka kelolaan ini hanya 16,85 ton pada Januari 2025.
Nasabah tabungan emas BSI ikut melonjak signifikan. Jumlahnya bertambah dari 531.329 nasabah pada Desember 2025 menjadi 766.742 nasabah pada Februari 2026.
Melihat tren ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah strategis baru. OJK resmi meluncurkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Kegiatan Usaha dan Ekosistem Bullion 2026–2031.
Pemerintah juga memulai tahap awal pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA). Asosiasi ini akan menjadi wadah koordinasi pelaku industri emas nasional.
Dari sisi regulasi, OJK telah menerbitkan POJK Nomor 2 Tahun 2026. Aturan ini mengatur tentang instrumen investasi Exchange Traded Fund (ETF) Emas. OJK kini juga sedang mengkaji proses tokenisasi emas.
Pengembangan ekosistem bullion syariah turut mendapat kepastian hukum. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) telah menerbitkan fatwa pedoman. Pemerintah juga tengah menyiapkan kebijakan insentif perpajakan.
“Genap setahun Bank Bullion hadir, aset kuat, masyarakat tenang,” pungkas Menko Airlangga.
Acara peringatan ini dihadiri oleh sejumlah pejabat teras negeri. Menteri Perdagangan Budi Santoso dan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti tampak hadir.
Turut hadir pula Direktur Utama PT Pegadaian Damar Latri Setiawan dan Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo. Sejumlah petinggi dari Danantara, Kemenko Perekonomian, OJK, serta BEI juga ikut hadir mengawal pengembangan ekosistem emas nasional ini.
