STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Rabu (25/2/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (26/2/2026) WIB. Harga tetap stabil meski terjadi lonjakan besar pada stok minyak Amerika Serikat (AS). Ancaman konflik militer antara AS dan Iran menahan kejatuhan harga lebih dalam.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik 0,08 USD menjadi 70,85 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,21 USD. Minyak WTI berakhir pada posisi 65,42 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Badan Informasi Energi (EIA) AS melaporkan penambahan stok minyak mentah sebesar 16 juta barel pekan lalu. Angka ini jauh melampaui ekspektasi. Jajak pendapat analis Reuters sebelumnya hanya memprediksi kenaikan 1,5 juta barel.
Lonjakan pasokan ini dipicu oleh penurunan pemanfaatan kapasitas kilang AS. Di saat bersamaan, volume impor minyak mentah juga mengalami peningkatan.
Angka penyesuaian EIA turut mencetak rekor tertinggi pekan lalu di level 2,7 juta barel per hari. Angka ini merupakan total perubahan stok minyak mentah yang tidak terdata.
Giovanni Staunovo, Commodity Analyst di UBS, memberikan pandangannya terkait kondisi pasar energi saat ini.
“Laporan (EIA) yang bearish dengan penumpukan minyak mentah yang besar… namun dampak harganya terbatas, karena pasar minyak tetap lebih dipengaruhi oleh faktor lain saat ini, seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar Giovanni Staunovo.
Pergerakan harga minyak terpengaruh kuat oleh situasi geopolitik. Harga Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak 31 Juli pada perdagangan hari Jumat. Minyak WTI juga memuncak pada hari Senin, mencapai posisi tertinggi sejak 4 Agustus.
Kenaikan harga sebelumnya dipicu oleh langkah militer AS. AS menempatkan pasukan militernya di wilayah Timur Tengah. Langkah ini bertujuan menekan Iran agar mau merundingkan penghentian program rudal balistik dan nuklirnya.
Konflik berkepanjangan berisiko besar mengganggu pasokan energi global. Iran saat ini menduduki posisi sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di dalam organisasi OPEC. Gangguan juga bisa merembet ke negara produsen lain di kawasan Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump ikut menyinggung potensi serangan ke Iran dalam pidato State of the Union pada hari Selasa. Trump bertekad tidak akan membiarkan negara yang ia sebut sebagai sponsor terorisme terbesar di dunia itu memiliki senjata nuklir.
Upaya negosiasi diplomatik masih terus diupayakan. Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu dengan delegasi Iran. Perundingan putaran ketiga ini akan berlangsung di Jenewa pada hari Kamis.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, buka suara terkait prospek perdamaian dengan AS pada hari Selasa.
“Dalam jangkauan, tetapi hanya jika diplomasi diutamakan,” tegas Abbas Araqchi.
Dari sisi produksi, kelompok OPEC+ bersiap mengambil langkah baru. Mereka kemungkinan mempertimbangkan peningkatan produksi minyak sebesar 137.000 barel per hari untuk bulan April. Langkah ini akan mengakhiri jeda penambahan produksi selama tiga bulan terakhir.
Delapan negara anggota utama OPEC+ akan menggelar pertemuan pada 1 Maret mendatang. Persiapan menghadapi lonjakan permintaan musim panas menjadi salah satu agenda utama. Memanasnya hubungan AS dan Iran juga memperkuat alasan peningkatan produksi tersebut.
Di tempat terpisah, Arab Saudi telah menyiapkan skenario cadangan. Produsen utama OPEC+ ini mengaktifkan rencana lonjakan produksi dan ekspor minyak jangka pendek. Skenario ini akan langsung berjalan jika serangan AS ke Iran menghentikan aliran minyak global.
Selain isu geopolitik, ketidakpastian kebijakan tarif AS turut membuat investor cemas. Tarif global sementara sebesar 10% dari Trump sudah resmi berlaku pada hari Selasa. Aturan ini meluncur setelah mendapat restu dari Mahkamah Agung AS pekan lalu.
Presiden Trump sempat mengisyaratkan pungutan tarif bisa naik menjadi 15%. Namun, belum ada kejelasan soal waktu dan mekanisme penerapannya.
Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, memberikan konfirmasi tambahan pada hari Rabu. Ia menyebut tarif impor AS untuk beberapa negara tertentu akan naik menjadi 15% atau lebih tinggi dari angka 10% saat ini. Jamieson belum merinci daftar spesifik mitra dagang yang akan terkena aturan baru tersebut.
