STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia merosot lebih dari 1% pada perdagangan Senin (9/3/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (10/3/2026) WIB. Penurunan ini didorong oleh penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS). Ekspektasi kenaikan suku bunga akibat konflik Timur Tengah juga menjadi pemicu utamanya.
Mengutip CNBC International, harga emas spot turun 1,5% menjadi USD 5.091,62 per ons troi. Di pasar berjangka AS, kontrak emas untuk pengiriman April ditutup melemah 1,1% ke level USD 5.103,70 per ons troi.
Kekhawatiran inflasi terus membayangi pasar logam mulia. Perang di Timur Tengah memicu ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini menekan daya tarik emas bagi para investor.
Jim Wyckoff, Analis Senior di Kitco Metals, memberikan ulasannya terkait situasi pasar. Ia melihat perang yang berkepanjangan bisa menopang permintaan aset aman. Hal ini pada akhirnya akan memberikan batas bawah bagi harga emas.
Emas secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Suku bunga rendah biasanya meningkatkan daya tarik aset ini. Emas sendiri merupakan jenis instrumen investasi tanpa imbal hasil.
Nilai tukar dolar AS semakin perkasa pada awal pekan ini. Lonjakan harga minyak hingga mendekati USD 120 per barel menjadi penyebabnya. Investor panik dan langsung memburu uang tunai.
Pelaku pasar takut perang Timur Tengah berlangsung lama. Konflik ini bisa mengganggu pasokan energi secara parah. Pertumbuhan ekonomi global juga terancam melambat.
Dolar yang kuat berdampak langsung pada pasar emas. Logam mulia yang dihargai dalam dolar ini menjadi lebih mahal. Pembeli dengan mata uang lain harus merogoh kocek lebih dalam.
Militer Israel baru saja melancarkan serangan di pusat Iran. Mereka juga membombardir ibu kota Lebanon, Beirut. Perang ini secara efektif menutup jalur vital Selat Hormuz.
Selat Hormuz memiliki peran sangat penting bagi dunia. Seperlima minyak global dikirim melalui jalur dekat pantai Iran ini. Gas cair lintas laut juga terbiasa melewati perairan tersebut.
Investor kini menanti rilis data ekonomi penting AS. Indeks harga konsumen (IHK) AS untuk bulan Februari akan terbit pada hari Rabu. Laporan ini sangat ditunggu oleh para pelaku pasar.
Ukuran inflasi favorit bank sentral AS (The Fed) juga segera rilis. Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) dijadwalkan keluar pada hari Jumat. Data ini akan menjadi penentu arah kebijakan moneter.
Wyckoff memberikan prediksinya terkait data inflasi terbaru nanti. Angka yang tinggi dinilai akan menyulitkan posisi bank sentral.
“Jika kita mendapatkan beberapa angka inflasi yang panas minggu ini, maka hal tersebut benar-benar akan menempatkan Federal Reserve ke dalam semacam dilema. Hal itu dapat memicu penurunan harga emas lebih lanjut,” kata Wyckoff.
The Fed akan menggelar rapat kebijakan berikutnya pada 17 hingga 18 Maret mendatang. Banyak pihak memprediksi bank sentral akan menahan suku bunga. Mereka diproyeksikan tidak mengubah kebijakan pada pertemuan tersebut.
Pergerakan beragam terjadi pada pasar logam mulia lainnya. Harga perak spot tercatat turun 0,2% menjadi USD 84,18 per ons troi.
Namun, tren positif terlihat pada harga platinum dan paladium. Harga platinum naik 1,1% ke level USD 2.158,02. Sementara itu, paladium melonjak 2,4% hingga menyentuh posisi USD 1.663,79.
