back to top

The Fed Pangkas Suku Bunga, Tapi Harga Minyak Dunia Tetap Turun! Ternyata Ini Penyebabnya

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak mentah dunia ditutup melemah pada perdagangan Jumat (19/9/2025) waktu setempat atau Sabtu pagi (20/9/2025) WIB. Kekhawatiran pasokan melimpah dan melemahnya permintaan menekan pasar, meski ada harapan penurunan suku bunga Amerika Serikat bisa memicu konsumsi lebih besar.

Mengutip CNBC International, kontrak berjangka Brent turun 76 sen atau 1,1% menjadi US$66,68 per barel, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berkurang 89 sen atau 1,4% mencapai US$62,68, di New York Mercantile Exchange. Meski melemah harian, keduanya masih mencatat kenaikan untuk minggu kedua berturut-turut.

“Pasokan minyak masih tetap kuat dan OPEC mengurangi pemangkasan produksinya,” kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates. “Kami belum melihat dampak dari sanksi terhadap ekspor minyak mentah Rusia.”

The Fed pada Rabu memangkas suku bunga acuan sebesar seperempat poin persentase. Bank sentral juga memberi sinyal pemangkasan lanjutan untuk merespons pelemahan pasar tenaga kerja. Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendorong permintaan minyak dan mengangkat harga.

Namun John Kilduff, Partner di Again Capital, menilai langkah Fed belum cukup kuat. “The Fed harus lebih agresif daripada yang sudah dilakukan,” ujarnya. “Kami butuh kenaikan 50 basis poin untuk mendorong permintaan. Aksi Fed tidak berpengaruh pada pertumbuhan pasar minyak mentah karena fundamental pasar yang mendasarinya.”

Di sisi permintaan, semua lembaga energi termasuk U.S. Energy Information Administration memberi sinyal kekhawatiran soal melemahnya konsumsi. Analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai hal ini meredam ekspektasi kenaikan harga dalam waktu dekat.

Lipow menambahkan, “Musim perawatan kilang akan semakin menekan permintaan.” Musim ini terjadi ketika kilang menutup sebagian unit produksi pada musim semi dan gugur untuk perbaikan rutin.

Kekhawatiran pasar juga meningkat setelah data menunjukkan stok distilat AS naik 4 juta barel, lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi ini menambah tekanan pada permintaan di negara konsumen minyak terbesar dunia.

Data ekonomi terbaru ikut memperburuk sentimen. Pasar tenaga kerja AS melemah, sementara pembangunan rumah tunggal anjlok ke level terendah dalam beberapa tahun pada Agustus akibat tumpukan rumah baru yang belum terjual.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Perang Timur Tengah Makin Panas, Harga Emas Dunia Langsung Terbang Tinggi

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencetak sejarah...

Perang Iran Berkecamuk, Harga Minyak Dunia Meroket Tembus USD 80 per Barel

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak hingga 8%...

Perang Timur Tengah Meluas, Harga Emas Dunia Naik Tembus USD 5.120

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali naik pada...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru