back to top

Tiga Dekade Merajut Koneksi, Sang Pionir Internet Indointernet (EDGE) Memilih Pamit dari Bursa

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) –  Kabar mengejutkan datang dari salah satu pemain utama infrastruktur digital di Tanah Air. PT Indointernet Tbk (EDGE) memutuskan untuk menarik diri dari hiruk-pikuk pasar modal. Emiten teknologi ini berniat mengubah statusnya menjadi perusahaan tertutup atau go private.

Langkah strategis ini langsung direspons oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Otoritas bursa secara resmi menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham EDGE di seluruh pasar. Gembok perdagangan ini mulai terpasang efektif sejak sesi pra-pembukaan, Selasa (10/2/2026).

Keputusan suspensi ini merujuk pada surat permohonan yang diajukan manajemen Indointernet sehari sebelumnya. Dalam surat tersebut, perseroan secara terbuka menyampaikan niatnya untuk melakukan Voluntary Delisting atau penghapusan pencatatan saham secara sukarela.

Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2 BEI, Adi Pratomo Aryanto, dan Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI, Pande Made Kusuma Ari A, menegaskan langkah bursa dalam pengumuman resminya.

“Bursa memutuskan untuk melakukan Penghentian Sementara Perdagangan Efek Perseroan (EDGE) di Seluruh Pasar efektif mulai Sesi Pra-Pembukaan Perdagangan Efek tanggal 10 Februari 2026,” tulis manajemen BEI dalam pengumuman tersebut, dikutip Selasa (10/2/2026).

Konfirmasi Rencana Go Private

Niat untuk hengkang dari bursa ini sebenarnya sudah tercium saat terjadi volatilitas transaksi saham EDGE. Dalam surat jawaban atas volatilitas transaksi, Sekretaris Perusahaan Indointernet, Donauly Elena Situmorang, membenarkan adanya rencana aksi korporasi besar tersebut.

Manajemen mengakui rencana ini berpotensi mempengaruhi kelangsungan pencatatan saham di bursa. Oleh karena itu, permohonan suspensi diajukan demi menjaga keteraturan pasar sembari proses berjalan.

“Perseroan memiliki rencana untuk melakukan tindakan korporasi tertentu yang dapat berdampak terhadap pencatatan saham Perseroan di Bursa, yaitu rencana perubahan status Perseroan untuk menjadi perusahaan tertutup (go private),” ungkap Donauly dalam keterbukaan informasi, Senin (9/2/2026).

Jejak Panjang Sang Perintis

Keputusan go private ini menjadi babak baru bagi Indointernet setelah puluhan tahun berkiprah. Berdiri sejak 1994, perusahaan yang lebih dikenal dengan nama Indonet ini adalah legenda. Mereka merupakan pionir penyedia layanan internet komersial pertama di Indonesia.

Selama tiga dekade, Indonet bertransformasi dari sekadar penyedia internet menjadi raksasa infrastruktur digital. Perjalanan bisnis mereka penuh dengan tonggak sejarah penting. Pada 1998, mereka meluncurkan GRIC International Roaming. Memasuki 2002, Indonet mulai merambah bisnis pusat data (Data Center) dan mengakuisisi Network Access Point (NAP).

Ekspansi terus berlanjut. Tahun 2011, Indonet membangun pusat data baru di Tangerang Selatan. Portofolio mereka kian lengkap dengan kehadiran layanan komputasi awan (cloud computing) berstandar global bersama Alibaba Cloud pada 2017.

Puncak transformasi terjadi pada 2021. Indonet resmi melantai di BEI melalui Penawaran Umum Perdana (IPO). Pada tahun yang sama, Digital Edge DC masuk sebagai pemegang saham mayoritas. Sinergi ini melahirkan EDGE1, sebuah pusat data berstandar global.

Kolaborasi dengan Digital Edge DC semakin memperkuat posisi Indonet. Visi mereka jelas, yakni menjadi yang terdepan dalam menghadirkan infrastruktur digital generasi baru yang berkelanjutan. Pada periode 2023-2024, Indonet bahkan melakukan pemecahan nilai saham (stock split) dan meresmikan pusat data kedua, EDGE2.

Identitas baru pun diperkenalkan pada 2025. Indonet meluncurkan logo anyar untuk mempertegas posisinya sebagai bagian integral dari ekosistem Digital Edge DC di Asia Pasifik.

Suntikan Modal Sebelum Pamit

Sebelum kabar go private mencuat, Indonet tercatat masih aktif memperkuat lini bisnisnya. Pada 22 Januari 2026, perseroan melaporkan transaksi afiliasi berupa peningkatan modal pada dua anak usahanya, yakni PT Digital Gayana Ekagrata (DGE1) dan PT Digital Gayana Ekaprana (DGE2).

Total suntikan modal tersebut mencapai Rp283 miliar. Dana segar ini dikucurkan untuk keperluan belanja modal demi ekspansi bisnis anak usaha.

“Peningkatan modal pada DGE1 sejumlah Rp38.000.000.000 dan pada DGE2 sejumlah Rp245.000.000.000,” jelas manajemen dalam laporannya ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kamis, (22/1/2026).

Manajemen memastikan transaksi ini telah sesuai regulasi. Nilai transaksi tidak melampaui batasan material yang ditetapkan, sehingga dikecualikan dari kewajiban prosedur transaksi material yang ketat.

“Transaksi Afiliasi ini merupakan Transaksi Afiliasi yang dikecualikan berdasarkan Pasal 6 ayat (1) huruf b POJK 42/2020,” tambah manajemen.

Kini, dengan suspensi yang telah berjalan, para pelaku pasar dan investor menanti detail mekanisme tender offer atau penawaran tender yang biasanya menyertai proses go private. BEI sendiri meminta seluruh pihak terkait untuk terus memantau keterbukaan informasi yang akan disampaikan perseroan dalam waktu dekat. Bagi Indonet, langkah ini mungkin menjadi cara untuk melaju lebih lincah dalam ekosistem privat bersama induk globalnya, Digital Edge DC.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Hari Ini, Jaya Ancol (PJAA) Lunasi  Pokok Obligasi II Tahun 2021 Seri C Rp65,4 Miliar

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) mengumumkan, Perseroan...

BEI Buka Lelang 10 Kursi Bursa Awal Maret 2026, Siapa Berminat?

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali...

Ditemukan Masalah Serius, OJK Cabut Izin Usaha Perumda BPR Bank Cirebon

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai dengan...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru