Stockwatch.id Versi penuh
Financial

Transformasi Digital dan AI Bawa Laba Bank Neo Commerce Naik ke Rp294,85 Miliar di Semester I 2026

Oleh Daiz La Ode 03 Aug 2026 16:20 4 menit baca

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) terus memperkuat transformasi sebagai bank dengan layanan digital melalui pengembangan teknologi artificial intelligence (AI), layanan wealth management, serta penyaluran kredit ke segmen ritel. Strategi tersebut turut menopang kinerja perseroan pada Semester I 2026.

Emiten dengan kode saham BBYB ini membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp294,85 miliar pada Semester I 2026. Angka tersebut meningkat 6,81% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp276,05 miliar. Perseroan juga mencatat total aset Rp17,45 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp12,30 triliun.

Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono, mengatakan BNC telah memperbarui visi dan misi perusahaan seiring semakin berkembangnya industri bank digital di Indonesia.

"Saat ini kita mau memposisikan visi kita itu apa sih? Ya kita mau menjadi bank yang sangat praktikal, adaptasi terhadap kebutuhan keuangan daripada generasi modern saat ini," ujar Eri dalam media gathering akhir pekan lalu.

Selain menyediakan layanan digital, BNC juga ingin mendukung program pemerintah melalui peningkatan inklusi keuangan, literasi keuangan, serta penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG).

Menurut Eri, misi perusahaan dijalankan melalui lima fokus utama. Pertama, memperkuat kapabilitas digital. Kedua, meningkatkan literasi keuangan masyarakat. Ketiga, memanfaatkan AI dan big data untuk memperkuat manajemen risiko dan meningkatkan ketepatan pemasaran produk.

"Sekarang ini lebih ke internal proses, nanti ke depannya kita akan juga luncurkan bagaimana nasabah-nasabah kita bisa memanfaatkan teknologi AI," katanya.

Fokus berikutnya adalah memperluas inklusi keuangan melalui penyaluran kredit kepada masyarakat yang masuk kategori underserved, underbanked, dan unbanked. Perseroan juga mengembangkan program ESG melalui produk deposito Neo Green yang menyalurkan sebagian bunga untuk mendukung konservasi satwa liar.

Eri menjelaskan transformasi BNC dimulai setelah Bank Yudha Bhakti diakuisisi investor pada 2019. Pada 2020, perseroan berganti nama menjadi Bank Neo Commerce sekaligus mengganti sistem inti perbankan untuk mendukung transaksi digital.

Aplikasi BNC mulai diluncurkan pada 2021. Pada periode tersebut perseroan juga mulai menjalankan bisnis direct lending. Jumlah nasabah meningkat menjadi sekitar 13 juta dan bertambah menjadi sekitar 20 juta setelah rights issue pada 2022-2023.

Perseroan juga mengembangkan berbagai layanan seperti Neo Loan, Neo Gold, transaksi melalui QRIS, layanan tarik tunai melalui jaringan ATM dan Indomaret, serta produk investasi bekerja sama dengan sekitar 10 hingga 11 manajer investasi.

"Di sisi funding kita yang kita fokuskan adalah pengembangan selain pembayaran pajak, pembayaran BPJS, QRIS, tapi juga penting wealth management sama produk-produk investasi," ujar Eri.

Dalam waktu dekat, BNC juga akan meluncurkan produk bancassurance untuk melengkapi layanan bagi nasabah segmen affluent.

Menurut Eri, BNC mulai membukukan laba pada 2024 dan mampu mempertahankan tren profitabilitas hingga Semester I 2026.

"Kita udah mulai profit Rp19 miliar di 2024, di 2025 juga kita cukup bagus profitnya," katanya.

Direktur/Chief Financial Officer (CFO) PT Bank Neo Commerce Tbk, Sufen Triantio, mengatakan laba Semester I 2026 menunjukkan profitabilitas perseroan terus terjaga.

"Per Juni ini profit kita di Rp294 miliar untuk setengah tahun. Kalau dibanding sama tahun lalu semester satu itu kira-kira naik sekitar 7%," ujar Sufen.

Dari sisi fundamental, Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) BNC mencapai Rp1,11 triliun, sedangkan pendapatan berbasis komisi (fee based income) meningkat menjadi Rp59,66 miliar atau tumbuh 6,77% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Efisiensi operasional juga membaik. Rasio BOPO turun menjadi 82,31% dari 84,81% pada Semester I 2025. Return on Assets (ROA) meningkat menjadi 3,23% dari 3,09%.

Kualitas aset turut menguat. Rasio Non Performing Loan (NPL) Gross turun menjadi 2,99% dari 3,10% pada Semester I 2025. Sementara rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat menjadi 50,23% dari 41,27%, dengan modal inti mencapai Rp4,20 triliun atau tumbuh 14,52%.

Penyaluran kredit BNC tercatat Rp7,13 triliun pada Semester I 2026. Perseroan secara selektif mengurangi pembiayaan di segmen komersial dan korporasi untuk meningkatkan kualitas portofolio. Sebaliknya, penyaluran kredit ke segmen konsumer dan UMKM meningkat menjadi Rp5,80 triliun dari Rp5,44 triliun, atau tumbuh 6,68% secara tahunan.

Pada sisi transaksi digital, layanan QRIS mencatat pertumbuhan signifikan. Jumlah transaksi meningkat 124% menjadi 267,4 juta transaksi pada Semester I 2026 dari 119,3 juta transaksi pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan dari transaksi QRIS juga melonjak 246% menjadi Rp25,8 miliar dari Rp7,4 miliar.

Ke depan, BNC mengusung strategi "Building the Next Phase of Growth: Strengthening Performance, Technology, and Trust." Perseroan akan memperkuat profitabilitas, meningkatkan pemanfaatan AI dan teknologi digital, serta memperkuat kepercayaan nasabah melalui tata kelola perusahaan dan pengelolaan risiko yang prudent.


"Kami percaya bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan harus dibangun di atas fondasi kinerja yang kuat, teknologi yang semakin andal, serta kepercayaan yang terus tumbuh dari nasabah dan seluruh pemangku kepentingan," tutup Eri.


Topik terkait
BNC laba bersih BNC Bank Neo Commerce bank digital kinerja BNC