Rabu, Januari 7, 2026
28.3 C
Jakarta

Reliance dan BNI Sekuritas Ungkap Alasan Saham Konglomerat Jadi Favorit Investasi 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Peta investasi di pasar modal Indonesia mengalami perubahan menarik memasuki tahun 2026. Dominasi saham-saham blue chip konvensional mulai tergeser. Investor kini lebih memilih saham-saham milik konglomerat besar sebagai motor utama penggerak pasar.

Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada menyoroti fenomena pergeseran ini. Ia menyebut pasar belakangan ini lebih banyak dikendalikan oleh grup-grup besar. Sebut saja saham milik Prajogo Pangestu, Salim Group, Sinarmas, hingga Bakrie Group.

Minat investor tidak lagi terpusat pada nama-nama lama. Sebelumnya, saham seperti Bank Mandiri, BCA, atau Astra International selalu menjadi primadona. Kini, fokus tersebut beralih ke emiten-emiten konglomerasi.

Reza menjelaskan alasan di balik tingginya kepercayaan investor terhadap grup-grup tersebut. Ada keyakinan kuat dari pelaku pasar terhadap komitmen pemilik perusahaan.

“Alasan utama mengapa saham konglomerat menjadi favorit adalah adanya asumsi dan kepercayaan bahwa pemilik perusahaan tersebut sangat menjaga performa sahamnya,” ujar Reza kepada stockwatch.id, Kamis (1/1/2026)

Ia memberikan contoh konkret pada grup Prajogo Pangestu dan Bakrie. Pergerakan saham mereka dinilai sangat dinamis. Hal ini didukung oleh komitmen manajemen dalam menjaga kinerja fundamental maupun harga di pasar.

“Sebagai contoh, saham-saham di bawah grup Prajogo Pangestu atau Bakrie cenderung memiliki pergerakan yang dinamis karena manajemen atau pemiliknya berkomitmen untuk menjaga kinerja fundamental maupun harga saham di pasar. Bahkan, ada kemungkinan kerja sama dengan beberapa sekuritas dilakukan untuk memastikan performa saham tetap terjaga, sehingga kepercayaan investor ritel maupun institusi terhadap grup ini tetap tinggi,” tambahnya.

Reza juga memberikan bocoran saham pilihan untuk tahun 2026. Dari grup Prajogo Pangestu, saham PTRO, CUAN, dan BRPT dinilai telah memberikan hasil signifikan sepanjang 2025 dan diharapkan berlanjut. Sementara dari grup Bakrie, saham BRMS, BUMI, dan VKTR masih menjadi pilihan menarik. Saham-saham ini memiliki harga relatif terjangkau namun volume perdagangannya besar.

Pandangan senada disampaikan oleh VP Equity Research PT BNI Sekuritas, Yulinda Hartanto. Ia menilai saham-saham konglomerat memiliki prospek cerah di tahun 2026. Diversifikasi bisnis mereka memberikan ketahanan terhadap siklus ekonomi.

Posisi grup konglomerat juga sangat kuat di berbagai sektor vital. Mulai dari konsumsi, otomotif, infrastruktur, hingga keuangan. Likuiditas yang tinggi juga menjadi daya tarik tersendiri. Saham-saham ini berpotensi menjadi tujuan utama rebalancing bagi institusi lokal maupun asing.

Yulinda melihat adanya peluang kenaikan valuasi di tengah membaiknya kondisi makroekonomi. Penurunan suku bunga menjadi salah satu katalis positif.

“Saham konglomerat berkapitalisasi besar, terutama yang sebelumnya tertinggal akibat arus keluar asing berpotensi mengalami valuation catch-up dalam lingkungan suku bunga menurun dan likuiditas membaik,” tutup Yulinda, dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (2/1/2026).

- Advertisement -

Artikel Terkait

Fokus ke Bisnis Inti, Unilever Siap Lepas Segmen Bisnis Teh “Sariwangi” Rp1,5 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengumumkan, pihaknya...

Naik 0,27%, IHSG Pagi Ini ke 8.957,427 Berkat Saham-Saham Ini

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di...

Kalon Holdings Perpanjang Jadwal Akuisisi Induk Mandom Indonesia (TCID)

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) mengumumkan...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru