STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Bursa saham Wall Street terjun bebas pada penutupan perdagangan Kamis (1/8/2024) waktu setempat atau Jumat pagi (2/8/2024) WIB. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot hampir 500 poin. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran investor terkait potensi resesi.
Mengutip CNBC International, Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York, AS ambruk 494,82 poin atau 1,21% menuju level 40.347,97. Pada titik terendah sesi, indeks ini sempat kehilangan 744,22 poin atau sekitar 1,8%. Setali tiga uang, Indeks S&P 500 (SPX) juga longsor 75,62 poin atau 1,37% menjadi 5.446,68. Hal senada terjadi pada Indeks komposit Nasdaq (IXIC) tergelincir 405,26 poin atau 2,3% menyentuh posisi 17.194,15. Indeks Russell 2000, yang menjadi tolok ukur saham perusahaan kecil, anjlok 3%.
Data terbaru memperkuat kekhawatiran akan resesi dan kemungkinan bahwa Federal Reserve terlambat dalam memotong suku bunga. Klaim awal tunjangan pengangguran naik paling tinggi sejak Agustus 2023. Indeks manufaktur ISM, indikator aktivitas pabrik di AS, berada di angka 46,8%, lebih buruk dari yang diperkirakan dan menunjukkan kontraksi ekonomi. Setelah data ini dirilis, yield obligasi Treasury 10-tahun turun di bawah 4% untuk pertama kalinya sejak Februari.
Data yang mengecewakan ini muncul sehari setelah para pembuat kebijakan bank sentral memilih untuk mempertahankan suku bunga di level tertinggi dalam dua dekade. Ketua Fed, Jerome Powell, memberikan sedikit harapan kepada investor dengan mengisyaratkan pemotongan suku bunga pada bulan September.
Tom Fitzpatrick, Managing Director untuk Global Market Insights di R.J. O’Brien and Associates, mengatakan data terkini menunjukkan kekhawatiran baru bahwa mungkin tidak akan ada soft landing dan Fed sudah terlalu lama ragu-ragu. Pasar obligasi sudah memberi sinyal bahwa kita tertinggal. Fed lebih siap membuat kesalahan berbeda karena takut membuat kesalahan yang sama.
Chris Rupkey, kepala ekonom di FWDBONDS, menambahkan bahwa data hari Kamis mengindikasikan penurunan ekonomi di tengah volatilitas. Pasar saham tidak tahu harus tertawa atau menangis karena meskipun mungkin ada tiga pemotongan suku bunga Fed tahun ini dan yield obligasi 10-tahun jatuh di bawah 4%, angin resesi bertiup kencang.
Saham-saham yang paling menderita di tengah resesi adalah yang paling merugi dalam sesi perdagangan hari ini. JPMorgan Chase turun 2,3% dan Boeing jatuh lebih dari 6%.
Di tengah penjualan besar-besaran, beberapa nama berhasil menutup sesi dengan catatan positif. Meta Platforms melonjak 4,8% berkat hasil kuartal kedua yang lebih kuat dari perkiraan dan panduan optimis.
Saham teknologi besar seperti Nvidia juga terkena dampak. Pemimpin chip kecerdasan buatan ini turun 6,7% karena investor menjual beberapa saham sebelum pasar mungkin menjadi lebih volatil menjelang pemilihan November. S&P 500 masih naik 14% sepanjang tahun ini, setelah mencatatkan bulan kedelapan positif dalam sembilan bulan terakhir di bulan Juli.
