back to top

Wall Street Berhasil Menghijau, S&P 500 dan Nasdaq Kompak Menguat

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Selasa sore (17/3/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (18/3/2026) WIB. Indeks S&P 500 melanjutkan momentum kenaikan dari sesi sebelumnya di tengah perkembangan perang Iran.

Mengutip CNBC International, indeks S&P 500 (SPX) ditutup naik 0,25% ke posisi 6.716,09. Indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi memuncak 0,47% hingga berakhir di level 22.479,53. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) bertambah 46,85 poin atau 0,1% menjadi 46.993,26.

Harga minyak yang fluktuatif dan dampak perang Iran terus memengaruhi sentimen investor. Pada Selasa, harga minyak kembali melanjutkan pendakiannya. Minyak mentah Brent sebagai patokan global naik 3% dan bertahan kokoh di atas level USD 100 per barel.

Meski harga minyak naik, grup konsumsi diskresioner pada S&P 500 justru melonjak 1% hari ini. Kenaikan dipimpin oleh Expedia Group dan Booking Holdings. Maskapai Delta dan American Airlines juga menguat berkat panduan pendapatan yang kuat. Namun, sektor ini tercatat turun lebih dari 2% sepanjang bulan ini.

Sektor energi menjadi pemimpin indeks dengan kenaikan sedikit di atas 1%. Pergerakan ini membuat keuntungan sektor energi selama bulan berjalan mencapai lebih dari 4%.

Lonjakan harga minyak terjadi setelah Presiden Donald Trump memberikan pernyataan terbaru. Pada Senin, Trump menyebut koalisi pelindung pelayaran di Selat Hormuz sedang dikerjakan. Namun pada Selasa, melalui unggahan di Truth Social, ia menyatakan AS tidak butuh bantuan NATO atau negara lain.

Trump mengklaim telah menghancurkan militer Iran. “Karena fakta bahwa kita telah mencapai Kesuksesan Militer seperti itu, kita tidak lagi “membutuhkan,” atau menginginkan, bantuan Negara-negara NATO — KITA TIDAK PERNAH MEMBUTUHKANNYA,” tulis Trump.

Saham sempat turun dari level tertingginya setelah unggahan tersebut muncul. Di saat yang sama, harga minyak mentah justru merangkak naik. Kondisi ini menunjukkan investor sebenarnya berharap adanya pembentukan koalisi.

Steve Sosnick, Chief Strategist di Interactive Brokers, melihat optimisme pasar masih ada. “Investor tetap berharap bahwa solusi cepat dan relatif tidak menyakitkan terhadap situasi ini akan ditemukan, dan ini akan terbukti menjadi yang terbaru dalam serangkaian peluang beli saat harga turun yang panjang dan relatif tidak terputus,” jelas Steve Sosnick.

Wall Street terus memantau perkembangan perang lebih lanjut. Kepala keamanan Iran, Ali Larijani, dilaporkan tewas dalam serangan udara semalam. Kabar tersebut disampaikan oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.

Kristina Hooper, Chief Market Strategist di Man Group, memberikan peringatan kepada para pelaku pasar. Ia menilai asumsi pasar terhadap durasi perang mungkin keliru.

“Pelaku pasar mungkin menganggap ini sangat mirip dengan tarif Hari Pembebasan yang diberlakukan oleh AS, dan ini akan menjadi masalah jangka pendek yang berakhir setelah AS memilih untuk menarik diri dari konflik militer,” ungkap Kristina Hooper.

Harga minyak melonjak sejak dimulainya serangan AS-Israel ke Iran. Pasar khawatir penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama dapat mengganggu pasokan energi global. Investor kini terus bersiap menghadapi ketidakpastian yang masih membayangi bursa saham.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Minyak Tembus USD 100, Bursa Saham Eropa Justru Menguat!

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...

Bursa Asia Ditutup Variatif, Saham Mobil dan Cip Terbang Saat Minyak Mengamuk

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik ditutup...

Wall Street Bangkit! Indeks S&P 500 dan Nasdaq Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru