STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Wall Street kembali mengukir sejarah pada penutupan perdagangan Selasa (6/1/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (7/1/2026) WIB.. Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) berhasil mencapai rekor tertinggi baru. Investor terlihat mulai mengalihkan fokus dari ketegangan geopolitik terkait serangan Amerika Serikat ke Venezuela.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melonjak 484,90 poin atau 0,99% menjadi 49.462,08. Ini pertama kalinya DJIA parkir di atas level 49.000.
Indeks S&P 500 (SPX) juga tercatat naik 0,62% ke posisi 6.944,82. Level ini merupakan rekor penutupan tertinggi sepanjang masa. Sepanjang sesi perdagangan, indeks acuan pasar modal AS tersebut juga sempat menyentuh rekor tertingginya secara intraday. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 0,65% dan berakhir di angka 23.547,17.
Saham Amazon yang merupakan anggota kelompok “Magnificent Seven” menjadi motor penggerak utama. Harga saham raksasa ritel ini melambung lebih dari 3%. Kenaikan ini ikut menyeret ketiga indeks utama ke zona hijau.
Sektor kecerdasan buatan (AI) juga memberikan dukungan kuat bagi pasar. Saham Micron Technology terbang sekitar 10%, sedangkan Palantir Technologies naik lebih dari 3%.
Memasuki hari ketiga perdagangan di tahun baru, saham-saham semikonduktor terus menunjukkan tren positif. Micron muncul sebagai salah satu pemimpin pasar. Berkat kenaikan hari Selasa, saham Micron tercatat sudah menguat lebih dari 20% sejak awal tahun 2026. Performa ini melanjutkan kesuksesan luar biasa tahun 2025 dengan kenaikan lebih dari 240%.
Ross Mayfield, Investment Strategist di Baird, memberikan analisanya terkait tren ini. Menurutnya, sektor teknologi tetap menjadi pilihan utama meski sempat melambat.
“Teknologi sempat sedikit melambat di akhir tahun, namun saya rasa tidak ada yang meragukan AI adalah teknologi yang mengubah keadaan,” kata Ross Mayfield.
Ia mengamati pergerakan saham chip yang memimpin pasar saat ini. Hal tersebut dianggap sebagai kelanjutan dari rotasi siklikal di bursa saham.
“Kita melihat saham-saham chip memimpin. Hal itu mungkin sudah diperkirakan, namun rotasi siklikal tersebut masih berlanjut,” tambahnya.
Ross Mayfield menilai pasar saat ini sangat dinamis. Saham teknologi dan sektor siklikal lainnya bisa tumbuh beriringan di tengah kondisi ekonomi tertentu.
“Anda bisa memiliki perdagangan AI dan saham teknologi yang berjalan baik, serta komponen siklikal pasar lainnya juga berfungsi dengan baik,” lanjut Ross Mayfield.
Ia memprediksi ekonomi tahun 2026 akan melaju kencang. Dukungan pemangkasan suku bunga dan stimulus fiskal membuat antusiasme terhadap teknologi AI semakin membara.
“Itu adalah jenis hal yang mungkin Anda harapkan dalam ekonomi yang akan berjalan panas pada tahun 2026 dengan pemotongan suku bunga, banyak stimulus fiskal, dan antusiasme AI yang semakin dekat ke titik didih,” jelasnya.
Di sisi lain, pasar tampak tenang merespons perkembangan situasi di Venezuela. Penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, oleh AS pada akhir pekan lalu justru diiringi dorongan Presiden Donald Trump agar perusahaan minyak AS melakukan investasi besar-besaran.
Sektor energi S&P 500 sempat mencatatkan kenaikan harian terbaiknya sejak Juli pada hari Senin. Ross Mayfield menilai peran Venezuela dalam ekonomi global dan pasar minyak tidak sebesar konflik lain yang pernah terjadi.
“Dampaknya cukup minimal sehingga Anda tidak akan melihat respons seperti gaya Ukraina-Rusia. Alasan besar aksi jual itu adalah lonjakan besar harga minyak. Kami tidak melihat hal itu di sini,” ungkap Ross Mayfield.
Pasar justru melihat potensi kembalinya pasokan minyak ke pasar jika sanksi terhadap Venezuela nantinya dicabut. Menurutnya, dampak peristiwa geopolitik biasanya baru terasa jika mengganggu harga minyak secara drastis.
“Peristiwa geopolitik ini ketika berdampak pada pasar atau gambaran konsumen cenderung menyerang pasar minyak, dan di sini hal itu tidak terjadi,” pungkas Ross Mayfield.
