back to top
Kamis, Januari 22, 2026
24.8 C
Jakarta

Wall Street Lesu Tertekan Sektor Keuangan, Pasar Resah Hadapi Tekanan Kebijakan Trump

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street kompak ditutup melemah pada perdagangan Selasa (13/1/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (14/1/2026) WIB. Para pelaku pasar mulai bereaksi terhadap berbagai tuntutan kebijakan Presiden Donald Trump. Selain itu, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral Amerika Serikat (AS) masih menyelimuti pasar.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York anjlok 398,21 poin atau turun 0,8% menjadi 49.191,99. Indeks S&P 500 (SPX) melemah 13,53 poin atau 0,19% ke level 6.963,74. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) terpangkas 24,032 poin atau setara 0,1% ke posisi 23.709,873..

Sektor keuangan menjadi kelompok dengan kinerja terburuk pada indeks pasar luas. Saham JPMorgan Chase anjlok lebih dari 4%. Penurunan ini terjadi setelah imbal hasil perbankan investasi kuartal keempat mengecewakan pasar. Saham Goldman Sachs dan Bank of America pun ikut terseret ke zona merah.

Tekanan pada sektor finansial bertambah setelah Trump mengusulkan pembatasan suku bunga kartu kredit maksimal 10% selama satu tahun. Rencana ini menekan saham-saham penyedia layanan pembayaran seperti Mastercard dan Visa. Trump juga mengeluarkan ancaman untuk melarang dividen dan pembelian kembali saham (buyback) bagi perusahaan pertahanan.

Di sisi lain, harga minyak melonjak lebih dari 2% pada Selasa. Lonjakan ini dipicu langkah Trump membatalkan pertemuan dengan pejabat Iran. Sektor energi pun mendapat berkah dan menguat sebesar 1,5%.

Ketegangan antara Trump dan Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, terus berlanjut. Departemen Kehakiman tengah melakukan penyelidikan kriminal terhadap pemimpin bank sentral tersebut. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran investor mengenai masa depan independensi The Fed.

Paul Meeks, Head of Technology Research di Freedom Capital Markets, menilai harga saham mulai mencerminkan dampak dari tuntutan Trump. Ia melihat adanya kecemasan yang muncul dari ancaman terhadap bank sentral dan kebijakan suku bunga kartu kredit.

“Ini adalah sisa dari ancaman terhadap Ketua Fed Powell dan pendapatan bank, yang terpukul oleh perusahaan-perusahaan yang berbicara tentang pembatasan suku bunga kredit sebesar 10% … Ini hanyalah kecemasan yang tidak perlu,” ujar Paul Meeks.

Meskipun terjadi penurunan, Paul Meeks menyebut situasi ini bisa menghadirkan peluang beli yang bagus. Terutama menjelang laporan belanja modal terkait kecerdasan buatan (AI) dari perusahaan-perusahaan teknologi besar.

Para pemegang saham kini menantikan rilis data ekonomi terbaru. Laporan indeks harga produsen (PPI) untuk Desember dijadwalkan terbit pada Rabu pagi waktu setempat. Data inflasi ini menjadi panduan penting bagi arah kebijakan moneter ke depan.

Selain data inflasi, fokus pasar tertuju pada laporan keuangan kuartalan. Sejumlah raksasa perbankan seperti Bank of America, Wells Fargo, dan Citigroup dijadwalkan merilis kinerja mereka pada Rabu sebelum pembukaan pasar.

Hingga Selasa malam, kontrak berjangka (futures) bursa AS terpantau bergerak mendatar. Futures Dow Jones turun tipis sekitar 40 poin atau hampir 0,1%. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 juga menunjukkan pergerakan yang tidak jauh berbeda.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Greenland Jadi Rebutan, Parlemen Eropa Bakal Bekukan Kesepakatan Tarif AS-Eropa

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Parlemen Eropa berencana menunda persetujuan kesepakatan...

Trump Ancam Tarif NATO Demi Greenland, Wall Street Alami Hari Terburuk Sejak Oktober

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Ancaman Perang Dagang Trump Picu Aksi Jual, Bursa Saham Eropa Berakhir Memerah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru