Wall Street Melaju Kencang, Dow Jones Cetak Rekor Usai Trump Batal Serang Iran
STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Senin sore (3/8/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (4/8/2026) WIB. Indeks Dow Jones berhasil mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah. Investor menyambut baik kenaikan saham teknologi raksasa dan merosotnya harga minyak dunia.
Mengutip
CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York
melonjak 693,38 poin atau 1,32% ke level 53.178,41. Indeks S&P 500 (SPX)
juga naik 1,48% dan berakhir di posisi 7.600,50. Sementara itu, indeks komposit
Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 2,13% menjadi 25.913,90.
Sektor teknologi dan layanan komunikasi menjadi mesin utama penggerak pasar. Saham Meta Platforms terbang 6% dalam sehari. Amazon juga ikut mendaki lebih dari 4% sekaligus mencatat rekor nilai pasar sebesar USD 3 triliun. Saham Nvidia menguat hampir 3%, sementara Alphabet dan Microsoft masing-masing naik mendekati 5%.
Kenaikan ini menjadi titik balik setelah sektor teknologi sempat terpuruk pada Juli lalu. Saat itu, investor merasa cemas mengenai besarnya biaya belanja perusahaan untuk teknologi kecerdasan buatan (AI). Namun, laporan laba perusahaan yang lebih kuat dari perkiraan membuat gairah investasi kembali muncul.
Jed Ellerbroek, Manajer Portofolio di Argent Capital Management, memberikan penjelasannya kepada CNBC. Ia melihat investor kembali optimis terhadap potensi keuntungan dari investasi teknologi.
“Pasar menilai pengeluaran biaya modal perusahaan teknologi besar memberikan imbal hasil investasi yang menarik,” ujar Jed.
Jed menambahkan permintaan untuk komputasi cepat masih jauh di atas ketersediaan pasokan. Menurutnya, perusahaan raksasa komputasi awan berada dalam posisi yang sangat baik. Sektor semikonduktor juga dinilai tetap berada dalam jalur pertumbuhan yang sangat cepat.
Selain saham teknologi, penurunan harga minyak ikut memberi tenaga bagi pasar. Harga minyak mentah Brent jatuh 4,73% ke posisi USD 83,77 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga merosot 5,11% ke level USD 80,34 per barel.
Sentimen positif ini muncul setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran akhir pekan lalu. Trump menyampaikan pembicaraan antara kedua negara akan berlanjut pada Senin. Kabar ini meredakan ketegangan di Timur Tengah yang sebelumnya sempat memicu kenaikan harga energi.
Michael Monaghan, mitra dan manajer portofolio di Founder ETFs, menilai pasar merespons positif langkah Amerika Serikat tersebut. Tekanan jual pada saham-saham terkait AI pun mulai mereda.
“Ada rasa takut sebelum akhir pekan mengenai ketidakstabilan di Timur Tengah. Meskipun isu ini naik turun setiap minggu, nada dan retorika yang ada saat ini menunjukkan adanya upaya untuk memperbaiki keadaan,” kata Michael.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) ikut turun karena kekhawatiran inflasi mulai memudar. Imbal hasil Treasury 10-tahun turun menjadi sekitar 4,688%.
Meskipun pasar sedang berpesta, Adam Crisafulli selaku pendiri Vital Knowledge memberikan catatan penting. Ia meminta investor tetap waspada karena konflik geopolitik biasanya membutuhkan waktu lama untuk benar-benar selesai.
“Investor menjaga antusiasme mereka karena 'kita pernah berada di posisi ini sebelumnya'. Kemungkinan konflik tersebut masih harus menempuh jalan panjang sebelum mencapai penyelesaian,” tulis Adam.