Stockwatch.id Versi penuh
Global

Wall Street Menghijau di Akhir Juli, Saham Amazon Terbang 15%

Oleh Daiz La Ode 02 Aug 2026 11:43 3 menit baca

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat sore (31/7/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (1/8/2026) WIB. Tiga indeks utama berhasil bangkit meskipun imbal hasil obligasi terus merangkak naik.  Investor tampak mengabaikan kenaikan bunga pinjaman dan lebih fokus pada lonjakan saham Amazon.

Mengutip CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York naik 276,97 poin atau 0,53% ke level 52.485,03. Indeks S&P 500 (SPX) juga bertambah 0,7% dan berakhir di posisi 7.489,72.  Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) melonjak 1% menjadi 25.373,85.

Kenaikan Nasdaq dipicu oleh performa gemilang Amazon yang meroket 15%.  Perusahaan melaporkan pendapatan kuartal kedua yang melampaui perkiraan pasar.  Bisnis komputasi awan yang kuat mempertebal kepercayaan investor terhadap investasi kecerdasan buatan (AI).

Kondisi ini berbanding terbalik dengan saham Apple. Saham raksasa teknologi ini justru anjlok lebih dari 7%. Pendapatan layanan yang kurang memuaskan menjadi penyebab utama penurunan harga sahamnya. Padahal, penjualan iPhone sempat melonjak hingga 22% pada kuartal tersebut.

Pasar menunjukkan ketangguhan meski sempat mengalami guncangan hebat pada pertengahan minggu.  Pada hari Rabu, indeks Dow sempat terjun bebas lebih dari 1.100 poin. Namun, pemulihan mulai terjadi sejak Kamis yang dipimpin oleh kenaikan saham Microsoft sebesar 16%. Sepanjang minggu ini, ketiga indeks utama berhasil mencatatkan keuntungan.  Dow dan S&P 500 masing-masing naik sekitar 1%. Nasdaq memimpin dengan kenaikan mingguan sebesar 1,6%. Khusus untuk bulan Juli, indeks Dow mencatatkan kenaikan 0,3%. Pencapaian ini membuat Dow sukses membukukan kenaikan selama empat bulan berturut-turut.  Namun, S&P 500 turun tipis 0,1% dan Nasdaq merosot 3,2% selama bulan Juli.

Di sisi lain, pasar obligasi menunjukkan tekanan.  Imbal hasil obligasi Treasury 30-tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2007 di angka 5,25%. Imbal hasil obligasi 10-tahun juga menyentuh 4,7%, level tertingginya sejak Januari 2025.

Kenaikan ini terjadi setelah investor mulai meragukan komitmen Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam meredam inflasi.  Warsh menyatakan komitmennya untuk melawan inflasi, namun ia mengakui tidak memiliki solusi instan.

“Kami tidak punya tongkat ajaib,” ujar Warsh minggu ini.

Terry Sandven, Chief Equity Strategist di US Bancorp Asset Management, ikut memberikan analisanya.  Ia menyebut pasar saat ini seperti wahana permainan yang penuh tantangan.

“Ketika [imbal hasil obligasi Treasury 10-tahun] bergerak menuju lima persen, lima persen mungkin merupakan level yang akan menyebabkan kecemasan pada sentimen dan menekan valuasi,” ujar Sandven kepada CNBC. Sandven menekankan pasar saat ini penuh dengan kegelisahan sekaligus peluang.  Menurutnya, ada faktor pendukung sekaligus penghambat yang berjalan bersamaan.

“Di satu sisi, ada banyak hal yang disukai dari lingkungan pasar.  Inflasi relatif stabil, suku bunga berada dalam kisaran tertentu, dan pendapatan perusahaan kuat,” tambah Sandven.  “Sebaliknya, Anda menghadapi konflik Timur Tengah yang terus berlanjut, dan itu mendorong harga minyak lebih tinggi, yang tentu saja bersifat inflasi.”

Harga minyak mentah memang terpantau merangkak naik. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,3% ke level USD 84,67 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent naik 1,2% menjadi USD 90,12 per barel.


 


Topik terkait
Wall Street saham Amazon Dow Jones indeks Nasdaq bursa saham AS