back to top

Wall Street Pecah Rekor Lagi, Investor Waspada Data Inflasi dan Lapangan Kerja

STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Wall Street mencetak rekor baru pada akhir perdagangan hari Selasa (9/9/2025) waktu setempat atau Rabu pagi (10/9/2025) WIB). Tiga indeks utama kompak menguat meski kekhawatiran soal lapangan kerja dan inflasi masih menghantui pasar.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York naik 196,39 poin atau 0,43% ke level 45.711,34 berkat lonjakan saham UnitedHealth. Indeks S&P 500 (SPX) menguat 17,46 poin atau 0,27% ke 6.512,61. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, bertambah 80,79 poin atau 0,37% ke posisi 21.879,49.

Meski indeks meroket, sentimen investor tetap diliputi keraguan. Biro Statistik Tenaga Kerja AS memangkas data ketenagakerjaan untuk periode 12 bulan hingga Maret, dengan revisi turun sebesar 911.000 pekerjaan. Angka ini menjadi yang terbesar sejak 2002.

“Saya pikir ekonomi sedang melemah,” ujar CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, kepada CNBC. “Apakah menuju resesi atau hanya melemah, saya tidak tahu.”

Koreksi besar pada data ketenagakerjaan itu tidak langsung berdampak ke perdagangan hari ini, tetapi bisa memengaruhi sikap The Federal Reserve. Investor menilai peluang pemangkasan suku bunga tahun ini makin terbuka.

“Gambaran pekerjaan terus memburuk dan meski itu seharusnya mempermudah The Fed memangkas suku bunga musim gugur ini, kondisi ini juga bisa mendinginkan reli pasar,” kata Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management.

Di sisi lain, saham-saham teknologi sempat menjadi motor penggerak. Nvidia dan Broadcom sempat mendukung kenaikan Nasdaq ke level tertinggi sepanjang masa. Namun pada Selasa, saham Broadcom terkoreksi lebih dari 2% setelah reli 13% dalam sepekan.

Kini perhatian beralih ke data inflasi. Investor menunggu laporan indeks harga produsen (PPI) yang rilis Rabu, serta indeks harga konsumen (CPI) pada Kamis. Dua data ini bisa menentukan arah kebijakan The Fed dalam rapat pekan depan.

“Jika CPI menunjukkan tren inflasi lebih buruk pada Kamis, maka pasar akan mulai khawatir stagflasi,” ujar Zaccarelli. “Pasar bullish tahun ini sangat tangguh, tapi kita bisa jadi sedang mendekati titik uji yang baru.”

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Ditutup Bervariasi, Saham Nvidia Anjlok Lebih Dari 5% 

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Mayoritas Bursa Eropa Menguat, Saham Puma dan Engie Melonjak

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup bervariasi pada...

Efek ‘Takaichi Trade’ Bursa Saham Asia Kompak Menguat

STOCKWATCH.ID (TOKYO) - Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru