Wall Street Terguncang, Dow Jones Rontok Parah dan Harga Saham-saham Anjlok!
STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Wall Street terguncang pada penutupan perdagangan Kamis (4/4/2024) waktu setempat atau Jumat pagi (5/4/2024) WIB. Perdagangan di Bursa Saham Amerika Serikat (AS) penuh dengan...
STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Wall Street terguncang pada penutupan perdagangan Kamis (4/4/2024) waktu setempat atau Jumat pagi (5/4/2024) WIB. Perdagangan di Bursa Saham Amerika Serikat (AS) penuh dengan gejolak menjelang rilis laporan pekerjaan bulan Maret. Harga saham-saham mengalami kemerosotan pada hari Kamis. Lonjakan harga minyak dan kekhawatiran tentang kemungkinan Federal Reserve menunda pemotongan suku bunga turut mempengaruhi sentimen investor.
Mengutip CNBC International, Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York, AS ditutup kehilangan 530,16 poin, atau 1,35%, menjadi 38.596,98. Ini merupakan sesi terburuk DJIA sejak Maret 2023. Sudah empat hari secara beruntun DJIA mengalami kerugian. Nasib sial juga menimpa indeks S&P 500 (SPX) yang mengalami kemerosotan sebesar 64,28 poin atau 1,23% menjadi 5.147,21. Setali tiga uang, indeks komposit Nasdaq (IXIC) ambles sebanyak 228,38 poin atau 1,40% menjadi 16.049,08.
Ketiga indeks utama tersebut mengalami penurunan tajam menjelang penutupan sesi, mencapai 2% lebih dari level tertinggi intraday. Antara level tertinggi dan terendah hari itu, Dow bergerak naik turun lebih dari 860 poin.
Pada tengah hari, terjadi lonjakan harga minyak mentah yang bersamaan dengan penurunan saham pada hari Kamis. Harga minyak WTI melebihi $86 per barel, mencapai level tertinggi sejak Oktober. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang potensi kenaikan harga energi yang dapat mempercepat laju inflasi.
Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, juga menyatakan pada Kamis sore keraguan apakah bank sentral seharusnya melakukan pemotongan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Hal ini menambah kompleksitas diskusi di kalangan anggota Fed yang cenderung berbicara konservatif tentang kebijakan. Sebagai respons terhadap komentar Kashkari, yield Treasury 10 tahun mengalami kenaikan dari level terendah sesi. Saat ini, yield Treasury benchmark diperdagangkan pada 4,305%. Pada Rabu sebelumnya, yield Treasury 10 tahun sempat mencapai 4,429%, mencatat level tertinggi tahun ini.
- EBITDA BUMA International Group Naik 8% di Semester I-2026, Rugi Bersih Menyusut...
- Ekspansi Pasar Kopi RTD Nabati, OATSIDE Rilis Varian Espresso Roast dan Kemasan...
- Rabundo Tembus Pasar Nasional, BRI Dukung UMKM Bumbu Rendang Asli Minang Naik Ke...
- Transformasi Danantara Berbuah Manis, Pendapatan Telkom (TLKM) Capai Rp75,9 Tril...
- Daftar Antrean IPO BEI Terbaru: Dua Perusahaan Skala Besar Bersiap Masuk Bursa
- MK Kabulkan Uji Materi UU APBN, Anggaran MBG Harus Dipisahkan dari Dana Pendidik...
- MK Sidangkan Gugatan Patriot Bond, Investor Kebal Pidana Dipersoalkan
- TransNusa Buka Rute Baru Lampung ke Kuala Lumpur dan Jakarta Mulai Agustus 2026
- Ekspansi Pasar Kopi RTD Nabati, OATSIDE Rilis Varian Espresso Roast dan Kemasan...
- Tiket Umum Ludes Sejam, BRI Buka Akses Eksklusif Konser 35 Tahun Twilite Orchest...