STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak mentah dunia ditutup menguat pada akhir perdagangan Kamis (28/8/2025) waktu setempat atau Jumat pagi (29/8/2025) WIB. Penguatan ini terjadi setelah sempat turun di awal perdagangan. Lonjakan ini terjadi setelah Gedung Putih menyampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak senang dengan serangan Rusia ke Ukraina.
Mengutip CNBC International, kontrak berjangka Brent naik 0,84% atau 57 sen menjadi US$68,62 per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertambah 0,7% atau 45 sen mencapai US$64,60 per barel, di New York Mercantile Exchange.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah Rusia menyerang Ukraina dengan rudal dan drone pada Kamis dini hari. Serangan ini menewaskan sedikitnya 21 orang di Kyiv. Militer Ukraina mengklaim berhasil membalas dengan menyerang dua kilang minyak Rusia menggunakan drone.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan Trump akan memberi pernyataan resmi terkait situasi ini. “Trump akan membuat pernyataan pada Kamis,” ujarnya kepada wartawan.
Kedua acuan harga minyak sempat turun sekitar 1% di sesi awal, namun berbalik menguat setelah komentar dari Gedung Putih.
Selain konflik Rusia-Ukraina, pasar juga menunggu langkah India terkait desakan AS menghentikan impor minyak Rusia. Tekanan bertambah setelah Trump menggandakan tarif impor India hingga 50% pada Rabu. Namun pedagang memperkirakan ekspor minyak Rusia ke India tetap meningkat pada September meski ada tekanan Washington.
Dari sisi pasokan, harga minyak juga tertekan oleh rencana OPEC+ menambah produksi sebesar 547.000 barel per hari mulai September. Kondisi ini diperparah proyeksi permintaan bahan bakar lebih rendah usai libur panjang Labor Day di AS.
Ritterbusch and Associates menilai kelebihan pasokan bisa memperburuk sentimen harga. “Itu akan membebani kontrak energi secara keseluruhan saat musim panas berakhir, konsumsi bensin menurun, dan kilang beralih ke produk musim dingin yang lebih murah,” tulis perusahaan konsultan energi tersebut.
Tekanan lain datang dari normalisasi pasokan minyak Rusia ke Hungaria dan Slovakia lewat jalur pipa Druzhba. Aliran minyak sempat terhenti akibat serangan Ukraina ke wilayah Rusia pekan lalu, namun kembali beroperasi pada Kamis.
