back to top

Cetak Sejarah Baru, Penerbitan Surat Utang Korporasi 2025 Tembus Rp 200 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) — Pasar modal Indonesia mencatatkan sejarah baru pada tahun 2025. Kinerja pasar obligasi dan sukuk korporasi tumbuh luar biasa pesat. Nilai penerbitan surat utang tahun ini bahkan menembus rekor tertinggi sepanjang masa.

Direktur Utama PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), Irmawati Amran menyampaikan capaian fantastis tersebut. Ia menyebut aktivitas penggalangan dana di pasar modal tahun ini sangat solid. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah menjadi pendorong utama gairah pasar ini.

“Penerbitan surat utang korporasi selama 11 bulan pertama tahun 2025 melonjak signifikan seiring lingkungan suku bunga yang lebih rendah,” ujar Irmawati di Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Data PEFINDO menunjukkan lonjakan drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Realisasi penerbitan dari Januari hingga November 2025 tercatat mencapai Rp 198,81 triliun. Angka ini tumbuh 56,88% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Pada tahun lalu, penerbitan surat utang hanya tercatat sebesar Rp 126,73 triliun. Jumlah Rp 198,81 triliun tersebut baru mencakup surat utang yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Angka riilnya ternyata jauh lebih besar. Jika digabungkan dengan instrumen yang tidak tercatat seperti Medium Term Notes (MTN) dan lainnya, nilainya sangat masif. Totalnya sudah melampaui Rp 200 triliun. Ini belum termasuk Patriot Bond yang nilainya mencapai Rp 50 triliun.

Irmawati menegaskan pencapaian ini sebagai rekor baru.

“Nah, ini merupakan tahun yang kita sebut juga one time high ya, karena sampai November ini saja sudah mencapai Rp198,81 triliun dan nanti di Desember kita pastikan akan lebih dari Rp200 triliun surat utang korporasi yang dicatatkan di Bursa Efek Indonesia,” tegasnya.

Irmawati juga membandingkan pertumbuhan ini secara tahunan.

“Penerbitan surat utang sampai dengan November 2025 ini meningkat sangat signifikan kalau kita bandingkan year on year di tahun 2024,” tambahnya.

Indikator positif lainnya terlihat dari rasio penerbitan terhadap utang jatuh tempo. Pada 2024, rasionya hanya 96%. Artinya, penerbitan utang baru nyaris habis hanya untuk membayar utang lama.

Kondisi berbeda terjadi tahun ini. Rasio penerbitan menembus angka 137%. Nilai penerbitan surat utang jauh melebihi nilai yang jatuh tempo.

“Nah, ini menunjukkan aktivitas yang sangat baik bagi penerbitan surat utang di Indonesia khususnya di pasar corporate bond di Indonesia,” jelas Irmawati.

Secara sektoral, industri keuangan masih menjadi penguasa pasar. Sektor multifinance menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 37,98 triliun. Perusahaan pembiayaan rutin menerbitkan surat utang untuk kebutuhan modal kerja.

Posisi kedua ditempati oleh sektor perbankan dengan nilai emisi Rp 33,85 triliun. Sektor industri bubur kertas dan kertas (pulp and paper) menyusul di posisi ketiga dengan nilai Rp 32,16 triliun.

Sektor pertambangan juga mencatatkan angka besar yakni Rp 24,20 triliun. Sementara itu, pembiayaan non-multifinance berkontribusi sebesar Rp 22,04 triliun.

Ada juga sektor lain yang cukup menarik perhatian. Sektor sewa kendaraan dan transportasi mencatatkan penerbitan Rp 11 triliun. Sektor telekomunikasi menyumbang Rp 1 triliun. Layanan kesehatan menerbitkan Rp 750 miliar, sedangkan sekuritisasi tercatat sebesar Rp 160 miliar.

Peningkatan penerbitan ini otomatis mendongkrak nilai surat utang yang beredar atau outstanding. Per akhir November 2025, total outstanding obligasi dan sukuk korporasi mencapai Rp 539,7 triliun. Angka ini naik dari Rp 476,9 triliun pada tahun 2024.

Jumlah emiten penerbit utang pun bertambah. Tahun ini terdapat 102 emiten yang menerbitkan surat utang. Angka ini merupakan rekor tertinggi baru. Total kini ada 184 emiten yang memiliki obligasi beredar di pasar.

Komposisi penerbitan kini didominasi oleh pihak swasta. Nilai penerbitan non-BUMN mencapai Rp 133,152 triliun. Sementara itu, BUMN menerbitkan surat utang senilai Rp 65,658 triliun.

Aktivitas penggalangan dana swasta menunjukkan tren agresif pasca pandemi COVID-19. Dominasi non-BUMN juga terlihat dari sisi outstanding. Porsi non-institusi keuangan mencapai 53,8%, dipimpin oleh industri pertambangan sebesar 8,8% dan konstruksi 6,5%.

- Advertisement -

Artikel Terkait

EBITDA IOTF Meroket Dua Kali Lipat Berkat Efisiensi AI

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Sumber Sinergi Makmur Tbk (IOTF)...

BRI Kucurkan KUR Rp80,09 Triliun ke Sektor Pertanian Sepanjang 2025

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk...

Bank Mandiri Cetak Laba Bersih Rp 56,3 Triliun pada 2025

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru