STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak mentah dunia bergerak sedikit lebih tinggi pada perdagangan Kamis (18/12/2025) waktu setempat atau Jumat pagi (19/12/2025) WIB. Investor tengah menimbang kemungkinan sanksi lanjutan Amerika Serikat (AS) terhadap Rusia. Selain itu, pasar juga mencermati risiko pasokan akibat blokade kapal tanker minyak Venezuela.
Mengutip CNBC International, minyak mentah Brent naik 14 sen atau 0,23%. Komoditas ini ditutup pada level US$ 59,82 per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 21 sen atau 0,38%. WTI menetap di harga US$ 56,15 per barel, di New York Mercantile Exchange.
Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior Perdagangan di BOK Financial memberikan pandangannya mengenai situasi ini.
“Minyak mentah berjangka mencoba mencari dukungan dari blokade ekspor minyak Venezuela, yang jika terus berlanjut kemungkinan besar akan menyebabkan produksi di wilayah tersebut ditutup tanpa tujuan pengiriman,” ujar Kissler.
Bloomberg melaporkan AS sedang menyiapkan sanksi baru terhadap sektor energi Rusia. Langkah ini diambil jika Moskow tidak menyetujui kesepakatan damai dengan Ukraina.
Namun, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters belum ada keputusan final dari Presiden Donald Trump. Keputusan terkait sanksi Rusia tersebut masih dalam pertimbangan.
Kissler menambahkan analisisnya terkait potensi eskalasi konflik.
“Jika tidak ada kesepakatan damai Rusia/Ukraina yang tercapai, serangan terhadap Rusia dapat meningkat, dengan cepat memperketat pasokan, dan jika Anda menambahkan blokade terhadap minyak Venezuela, harga minyak mentah mungkin sangat murah di sini,” kata Kissler.
Analis ING menilai langkah lanjutan yang menargetkan minyak Rusia dapat menimbulkan risiko pasokan lebih besar. Dampaknya diprediksi lebih signifikan dibandingkan pengumuman blokade tanker Venezuela oleh Trump pada hari Selasa.
Di sisi lain, Inggris turut menjatuhkan sanksi kepada 24 individu dan entitas. Ini merupakan bagian dari rezim sanksi Rusia mereka. Perusahaan minyak Rusia, Tatneft, termasuk dalam daftar tersebut.
ING memperkirakan blokade Venezuela dapat memengaruhi ekspor 600.000 barel per hari. Sebagian besar ekspor ini bertujuan ke China.
Namun, ekspor 160.000 barel per hari ke AS kemungkinan akan berlanjut. Kapal-kapal Chevron masih terus berangkat ke AS di bawah otorisasi pemerintah sebelumnya.
Belum jelas bagaimana blokade AS akan ditegakkan secara teknis. Penjaga Pantai AS pekan lalu mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan menyita kapal tanker minyak Venezuela.
Sumber menyebut AS sedang bersiap untuk melakukan lebih banyak penyitaan serupa. Sebagai informasi, minyak mentah Venezuela menyumbang sekitar 1% dari pasokan global.
Analis Bank of America mengantisipasi harga minyak yang lebih rendah akan mengurangi jumlah pasokan. Jika harga WTI rata-rata US$ 57 per barel pada tahun 2026, produksi minyak serpih AS dapat berkontraksi sebesar 70.000 barel per hari.
