STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pertemuan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Self-Regulatory Organization (SRO), dan Danantara dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) dinilai berjalan baik dan konstruktif. Pembahasan kini berlanjut ke level teknis. Fokusnya pada metodologi dan perhitungan penilaian indeks.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menyampaikan hal itu dalam keterangan pers di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (2/2/2026). Pernyataan ini disampaikan usai meeting dengan MSCI pada sore hari.
Pandu mengatakan diskusi dengan MSCI membuka ruang dialog yang lebih mendalam. Tahap berikutnya akan berfokus pada detail teknis. Ia menilai proses ini penting untuk perbaikan pasar modal Indonesia ke depan.
“Meeting dengan MSCI berjalan dengan baik dan konstruktif. Sekarang memang the devil is in the detail. Harus detail nanti ke depannya,” kata Pandu.
Ia menegaskan posisi Danantara sebagai pelaku pasar. Menurutnya, keterlibatan aktif seluruh pihak akan membawa dampak positif dalam jangka panjang.
“Kami sebagai market participant juga merasa ini sesuatu yang nantinya tentu akan makin baik buat pasar modal kita,” ujarnya.
Pandu juga menyinggung respons Ketua Dewan Komisioner OJK terkait pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada perdagangan Senin (2/2/2026), IHSG ditutup melemah 406,875 poin atau turun 4,88% ke level 7.922,731. Pada penutupan Jumat (30/1/2026), IHSG berada di posisi 8.329,606.
Penjelasan tersebut disampaikan oleh Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi. Ia menilai penurunan indeks perlu dilihat secara lebih luas.
“Market kita pada hari ini ditutup turun 4,88%, jadi indeksnya di 7.922,73. Namun di balik angka penurunan tersebut tentu ada hal lain yang harus kita lihat juga dan ini hal yang sangat baik,” ujar Friderica.
Friderica menyoroti arus dana asing. Setelah empat hari berturut-turut mencatatkan penjualan bersih, investor asing justru kembali membukukan pembelian bersih.
“Setelah 4 hari asing net sale, pada hari ini asing mencatatkan net buy sebesar Rp654,9 miliar. Jadi ini berita bagusnya,” kata Friderica.
Ia juga mengingatkan kondisi pasar regional. Sejumlah indeks utama di Asia mengalami tekanan yang sama.
“Kalau kita lihat secara regional, indeks-indeks juga minus. Kospi Korea bahkan minus lebih dalam 5,4%. Hong Kong, India, Singapura, dan Tiongkok juga melemah. Emas juga melemah pada hari ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Friderica menitipkan pesan kepada investor. Ia meminta pelaku pasar tetap tenang dan rasional dalam mengambil keputusan.
“Saya ingin titip pesan untuk seluruh investor di Indonesia. Jangan panik, tetap tenang. Tetap mengambil keputusan investasi secara rasional. Lihat fundamental dan prospek ke depan,” ujarnya.
Pandu Sjahrir menambahkan tekanan pasar saat ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Menurutnya, faktor global dan regional turut memengaruhi pergerakan.
“Secara makro, pasar di Asia memang sedang mengalami tekanan. Komoditas juga sedang mengalami tekanan,” kata Pandu.
Ia menilai kondisi tersebut berkaitan dengan proses penyesuaian portofolio investor. Rebalancing dinilai wajar dalam dinamika pasar global.
“Dari sisi investor terjadi rebalancing. Yang dibicarakan oleh MSCI itu soal uninvestable asset atau stock,” ujarnya.
Meski demikian, Pandu melihat ada sinyal positif. Ia menyebut terjadi peningkatan investasi institusional, baik dari dalam maupun luar negeri, pada saham-saham tertentu.
“Yang dilihat sekarang adalah peningkatan investment dari institusi. Saham-saham yang memiliki fundamental yang baik, likuiditas yang baik, valuasi yang baik, dan cashflow yang baik,” jelas Pandu.
Menurutnya, pergerakan tersebut terlihat jelas pada saham-saham unggulan. Baik saham yang masuk kelompok kenaikan maupun yang mengalami penurunan.
“Itu bisa dilihat dari top 20 stocks yang mengalami peningkatan dan top 20 stocks yang mengalami penurunan,” ujarnya.
Pandu meminta kondisi ini dilihat secara menyeluruh. Ia mengingatkan agar analisis tidak hanya berfokus pada pasar domestik.
“Ini perlu dilihat secara makro saja, bukan hanya di level Indonesia,” katanya.
Ia optimistis proses penyesuaian ini akan berdampak baik ke depan. Namun ia menekankan hasilnya tidak akan terlihat secara instan.
“Ini menurut saya sesuatu yang nantinya akan baik. Bukan semua bakal overnight,” ujarnya.
Pandu juga menyinggung pengumuman penting dari MSCI pada Rabu, 28 Januari 2026 waktu Indonesia. Saat itu, MSCI menyoroti isu transparansi struktur kepemilikan saham publik atau free float.
Sebagai langkah sementara, MSCI membekukan seluruh kenaikan Faktor Inklusi Asing dan Jumlah Saham. MSCI juga menahan penambahan emiten Indonesia ke dalam indeks tertentu.
Ancaman lanjutan akan muncul pada Mei 2026. Jika perbaikan transparansi dinilai belum memadai, status Indonesia berpotensi diturunkan dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Risiko arus keluar dana asing pun meningkat.
Pandu menilai respons regulator dan pelaku pasar Indonesia tergolong cepat. Ia menyebut langkah ini jarang terjadi di banyak negara.
“Minggu sudah di-announce, dan Senin ini meeting dengan MSCI sangat cepat. Untuk banyak negara yang di-cover MSCI, ini salah satu yang tercepat dari sisi regulator dan bursa,” kata Pandu.
Ia menilai kecepatan respons tersebut memberi sinyal positif. Proses ini dinilai memberi harapan bagi perbaikan ke depan.
“Ini juga mempunyai sesuatu yang encouraging,” ujarnya.
Pertemuan dengan MSCI pada Senin sore dihadiri perwakilan SRO, OJK, dan Danantara. Dari OJK antara lain dihadiri oleh Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi dan Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi. Sedangkan SRO yang hadir Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik dan Direktur Utama Kustodian Central Efek Indonesia (KSEI) Samsul Hidayat. Pandu Sjahrir juga turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Diskusi teknis lanjutan akan menjadi kunci. Seluruh pihak berharap dialog yang terbuka dan detail mampu memperkuat fondasi pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.
