back to top

Ketegangan AS-Iran Mereda, Harga Minyak Dunia Terperosok Hingga 5%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot tajam pada akhir perdagangan Senin (2/2/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (3/2/2026) WIB. Penurunan ini menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump perihal hubungan dengan Iran. Sinyal de-eskalasi ketegangan dengan anggota OPEC tersebut meredakan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent jatuh 3,40 USD atau 4,9%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 65,92 USD per barel.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok 3,51 USD atau 5,3%. Minyak WTI berakhir pada posisi 61,70 USD per barel di New York Mercantile Exchange.

Trump menyampaikan kepada wartawan pada Sabtu lalu, Iran sedang “berbicara serius” dengan Washington. Pernyataan ini muncul beberapa jam setelah pejabat keamanan utama Teheran, Ali Larijani, menyebut persiapan untuk negosiasi sedang berlangsung. Pejabat dari kedua negara mengonfirmasi pembicaraan nuklir akan dilanjutkan pada Jumat mendatang.

Analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, memberikan analisanya terkait situasi ini. Ia menyebut sebelumnya Presiden AS berulang kali mengancam Iran dengan intervensi jika tidak menyetujui kesepakatan nuklir.

“Ancaman tersebut menopang harga minyak sepanjang Januari,” ujar Priyanka Sachdeva.

Selain faktor geopolitik, penguatan mata uang dolar AS turut memberikan tekanan pada harga minyak. Penguatan dolar terjadi setelah Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai ketua Federal Reserve berikutnya.

Dolar yang lebih kuat membuat komoditas seperti minyak dan emas menjadi lebih mahal bagi investor asing. Hal tersebut pada akhirnya membebani permintaan pasar secara global.

Di sisi lain, prakiraan cuaca yang lebih sejuk di Amerika Serikat menjadi sentimen negatif tambahan bagi harga minyak. Ritterbusch and Associates melaporkan kontrak berjangka diesel jatuh tajam. Harga kontrak berjangka diesel AS, yang digunakan untuk pemanas dan pembangkit listrik, turun hampir 7% pada Senin.

Analis PVM dalam catatannya menyebut ketegangan di Timur Tengah dan fenomena polar vortex di AS sempat mendorong kenaikan harga pada Januari. Saat itu, WTI melonjak 14% dan Brent naik 16%.

Namun, seiring memudarnya isu-isu tersebut, perhatian pasar kembali pada hal lain. Fokus investor kini tertuju pada perkiraan penumpukan persediaan minyak global yang telah diantisipasi secara luas tahun ini.

Terkait kebijakan produksi, aliansi OPEC+ sepakat untuk tidak mengubah tingkat output minyak untuk bulan Maret. Keputusan ini diambil dalam pertemuan yang berlangsung pada Minggu.

Pada November lalu, kelompok ini telah membekukan rencana peningkatan produksi untuk periode Januari hingga Maret 2026. Langkah tersebut diambil karena adanya pelemahan konsumsi secara musiman.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Emas dan Perak Bangkit dari Keterpurukan, Saham Tambang Global Ikut Menghijau

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dan perak dunia bangkit...

AS Tembak Jatuh Drone Iran, Harga Minyak Dunia Melambung 1% Lebih

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup menguat pada...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru