STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga perak dan emas dunia ditutup melemah tajam pada perdagangan Kamis (5/2/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (6/2/2026) WIB. Harga perak kembali anjlok setelah sempat menguat selama dua hari terakhir. Volatilitas yang berlebihan masih terus menekan pasar logam mulia ini.
Mengutip CNBC International, harga perak spot merosot hampir 13% ke posisi USD 76,74 per ons troi pada pukul 13.48 waktu setempat. Di bursa berjangka New York, harga perak bahkan turun lebih dari 9% menjadi USD 76 per ons troi. Pelemahan ini juga menyeret harga emas spot yang turun sekitar 2% ke level USD 4.868 per ons troi, sementara emas berjangka melemah 1,3% ke posisi USD 4.886,4 per ons troi.
Penurunan ini menghentikan reli pemulihan harga perak yang sempat terjadi sebelumnya. Pekan lalu, logam putih ini mencatat sejarah kenaikan sebelum akhirnya jatuh hampir 30% pada hari Jumat. Data LSEG mencatat perak sempat membukukan kenaikan luar biasa sebesar 146% sepanjang tahun 2025.
Para analis menilai pergerakan harga saat ini lebih didorong oleh arus spekulasi dan perdagangan opsi. Faktor-faktor tersebut dinilai lebih dominan dibandingkan permintaan fisik perak di pasar. Sunil Garg, Managing Director Lighthouse Canton, memberikan analisanya mengenai situasi ini.
“Anda telah melihat banyak posisi spekulan menumpuk … saya rasa itu belum sepenuhnya terbuang,” ujar Sunil Garg.
Garg tetap melihat fundamental permintaan perak masih cukup kuat untuk jangka panjang. Namun, ia menyarankan investor untuk menunggu hingga posisi spekulatif di pasar benar-benar bersih. Perak sendiri memiliki kegunaan industri yang luas, mulai dari tenaga surya, elektronik, hingga katalis.
Langkah bursa komoditas dunia menaikkan persyaratan jaminan (margin) menjadi salah satu penyebab tekanan harga. CME Group telah menaikkan persyaratan margin setelah aksi jual besar-besaran Jumat lalu. Langkah ini bertujuan untuk menekan aktivitas spekulasi yang berlebihan di pasar.
“Persyaratan margin yang dinaikkan oleh berbagai bursa logam di seluruh dunia … itu hanya sesuatu yang akan mematikan sebagian spekulasi,” tambah Garg.
Goldman Sachs dalam catatan risetnya menjelaskan mekanisme kejatuhan harga yang terjadi. “Saat harga turun, lindung nilai diler beralih dari membeli saat kuat menjadi menjual saat lemah, stop-out investor terpicu, dan kerugian mengalir melalui sistem,” tulis Goldman Sachs.
Koreksi harga perak tercatat lebih besar daripada emas akibat kondisi likuiditas yang ketat di pasar London. Goldman Sachs menambahkan aliran dana dari Barat menjadi penggerak utama volatilitas ini. Sebagian besar pergerakan tajam terjadi saat pasar berjangka China sedang ditutup.
Fenomena gejolak harga perak ini mulai dibandingkan dengan tren saham meme seperti GameStop pada tahun 2021. Pelaku pasar memperingatkan harga perak telah terlepas dari level fundamental yang berkelanjutan. Steve Sosnick, Chief Strategist di Interactive Brokers, turut memberikan pandangannya.
Sosnick menyebutkan tema logam mulia telah menangkap perhatian publik secara luas. Hal ini memicu “perdagangan momentum yang melampaui bahkan jenis langkah luar biasa yang telah kita lihat dalam berbagai aset spekulatif,” tegas Steve Sosnick.
